maandag 7 november 2011

Drie jaar...


Alhamdulillah, ik ben al drie jaar in Belgie (saya sudah 3 tahun tinggal di Belgia) ^_^

Alhamdulillah sudah 3 tahun ini kami tinggal bersama (lagi), setelah lebih dari setahun kami menjalani suka-duka LDR (Long Distance Relationship). Sebagaimana layaknya setiap pasangan suami istri, kami juga ingin tinggal bersama dalam cinta dan meraih cita, juga saling berbagi suka dan duka dan saling meringankan beban. Fabiayyi 'ala irobbikuma tukadzdziban. Nikmat dari Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan... Nikmat kesyukuran atas reunion ini pun menginspirasiku untuk mengikuti sebuah ajang lomba penulisan. Hasilnya, alhamdulillah, karyaku yang berjudul "Bersatunya Cinta, Jawaban Atas berjuta Do'a" bersama karya puluhan penulis yang lain dibukukan dalam sebuah buku antologi.

Sebuah pertanyaan besar yang menggelayut di pikiranku saat ini adalah.... Apa yang sudah saya perbuat selama 3 tahun ini?

Bagi seorang balita, 3 tahun adalah waktu yang cukup untuk bisa "merepotkan" kedua orang tuanya karena dia menjadi sangat aktif, lari kesana-kemari. Rasa ingin tahunya yang sudah cukup besar sangat menguji kesabaran kedua orang tuanya juga, begitu pula semangatnya untuk meniru orang yang ada di sekitarnya. So, sudah banyak perkembangan (secara fisik, emosional, mental, rohani, dan sosial) yang terjadi pada balita di usianya yang ke tiga.

Bagi seseorang yang sedang melanjutkan studi pasca sarjana, waktu 3 tahun itu sudah lebih dari cukup untuk bisa menghasilkan sebuah karya tesis (biasanya, hanya dibutuhkan 1-2 tahun untuk meyelesaikan program master).

Bagi seorang pegawai, waktu 3 tahun setidaknya cukup baginya untuk bisa memahami job description dan bisa beradaptasi dengan lingkungan kerjanya. Bahkan, tidak jarang, di tahun yang ke tiga ini, mereka sudah naik jabatan.

Lantas, bagaimana dengan saya?  

Apa yang sudah saya perbuat selama 3 tahun ini? 
Sudahkah ada peningkatan kapabilitas diri saya? Karena Allah menciptakan setiap manusia itu dengan segenap potensi dirinya.
Sudahkah saya memberi manfaat bagi pasangan (suami), keluarga, komunitas sekitar, negara atau umat? Padahal sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberi manfaat bagi orang lain...

Astaghfirullohal adziim...rasanya belum banyak yang telah saya perbuat. Padahal adalah suatu kenikmatan yang luar biasa bagi saya, bisa tinggal bersama suami tercinta dan kebetulan berkesempatan untuk menikmati hidup di luar negeri. Bukankah itu sebuah kenikmatan yang patut disyukuri? Apalagi juga sudah "berkorban" untuk tinggal jauh dari keluarga besar beserta segala culture, kenyamanan dan makanan-makanan enaknya.
Ya Allah, ampuni hamba yang belum benar-benar mensyukuri semua ini. Padahal hamba yakin seandainya hamba lebih sungguh-sungguh mensyukurinya maka akan Kau tambahkan nikmat ini.

3 tahun bukanlah waktu yang singkat...untuk bisa belajar tentang sebuah kehidupan, untuk bisa melihat setiap kebesaran Allah, untuk bisa mendengar suka duka saudara, untuk bisa mengulurkan tangan untuk memberikan bantuan, untuk bisa berprestasi yang akan membawa kemanfaatan di dunia dan di akhirat.

Saya sadar bahwa saya masih takut untuk BERMIMPI. Padahal sejak kecil pun kita sudah diajari untuk memiliki CITA-CITA, yang sayangnya seiring berjalannya waktu cita-cita itu hanya menjadi cerita lama. Alhamdulillah, Allah sudah mengingatkan...dengan cara dipertemukan dan berinteraksi dengan teman-teman yang sedang kuliah di sini. Rasanya seperti "tertampar", terbangun dari tidur yang panjang. Tidak sedikit dari mereka yang berkesempatan untuk menuntut ilmu di sini, bukan hanya "kebetulan", tapi berawal dari sebuah IMPIAN yang disempurnakan dengan IKHTIAR dan DO'A.

“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.” - Arai”
Andrea Hirata, Sang Pemimpi

Mendengar cerita dari orang-orang hebat yang saya temui, membuat saya semakin yakin bahwa pasti Allah juga memberi saya potensi untuk menjadi hebat. Tidak sedikit dari mereka berusia jauh lebih muda dari saya. Dan ada pula yang umurnya hampir sama dengan umur ummi, tapi semangatnya luar biasa. Tidak sedikit dari mereka pun tidak lebih lama dari saya tinggalnya di Belgia-nya...tetapi mereka sudah bisa BERKARYA dan menghasilkan/mendapatkan sesuatu yang bermanfaat. Meski saya bukanlah mereka, tapi saya ingin mengambil pelajaran dari mereka dan ingin menjadi seperti mereka. Semoga kehebatan itu nantinya benar-benar "bernilai" di dunia dan di akhirat...amien

Sebagai salah satu contohnya adalah keinginan saya untuk melanjutkan studi di sini. Hmm...saya merasa masih belum membuat planning yang jelas untuk persiapannya, kesungguhan pun jadi mengambang. Sehingga waktu pun berlalu begitu saja...tanpa saya bisa menariknya kembali. Astaghfirullohal adziim... Saya perlu lebih pinter lagi dalam mengelola waktu, memprioritaskan pekerjaan, dan sebagainya. Semoga "lecutan" ini bisa mengembalikan semangat saya untuk mendapatkan sesuatu yang lebih bermanfaat. Untuk keinginan yang satu ini, suamiku tercinta sangat mendukung dan tidak henti-hentinya terus mengingatkan. Karena memang agar kesempatan yang ada benar-benar saya manfaatkan. *Ayo smangat Ellyyy...*

Bismillah, semoga hari ini menjadi sebuah awalan untuk saya luruskan niat, sempurnakan ikhtiar, dan kuatkan dengan do'a. AWALAN (yang mungkin sudah agak terlambat) untuk IKHTIAR dalam menggapai CITA yang masih belum tertunaikan dengan sempurna (musti lebih SERIUS dan SUNGGUH-SUNGGUH lagi..). Beter laat dan nooit (lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali). Selama kesempatan itu masih ada...semangaaaat...^__^

"Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan" 
(QS. At Taubah 105)

Teruslah bergerak, hingga KELELAHAN itu LELAH mengikutimu
Teruslah berlari, hingga KEBOSANAN itu BOSAN mengejarmu
Teruslah berjalan, hingga KELETIHAN itu LETIH bersamamu
Teruslah bertahan, hingga KEFUTURAN itu FUTUR menyertaimu
Tetaplah berjaga, hingga KELESUAN itu LESU menemanimu
(Ustadz Rahmat Abdullah)


Bismillah...
semoga Allah beri kemudahan dalam mencapai CITA-CITA yang belum tercapai
semoga Allah menerima amalan dan beri ke-istiqomah-an pada amal kebajikan yang baru sedikit, yang sudah saya kerjakan
semoga Allah berikan ampunan dan kemampuan/kekuatan untuk mengurangi dan menghilangkan banyaknya kedzoliman/keburukan yang sudah saya kerjakan
semoga Allah memberi keberkahan di setiap DETIK yang tersisa...


Leuven, 7 November 2011

zaterdag 5 november 2011

Lebaran Haji keempat ...


Dear all,

Sejak kemarin-kemarin saya sempat beberapa kali melihat siaran live haji melalui youtube. Selain karena penasaran dengan "kenikmatan" ibadah haji seperti diceritakan orang-orang sepulang menunaikan ibadah haji, aku juga ingin ikut merasakan suasana di sana. Tidak bisa dipungkiri, ada kerinduan di hati ini...semoga Allah memberi kemudahan pada kami dalam menggenapkan ikhtiar kami untuk menunaikan ibadah haji ini di tahun mendatang.

Subhanalloh...entah berasal dari mana rasa ini, syahdu, haru bercampur "merinding", menyaksikan orang-orang yang melaksanakan tawaf (mengelilingi ka'bah) sambil membaca kalimat talbiyah, sholat berjama'ah di Masjidil Haram, berdo'a samapai mencucurkan air mata, tilawah al Qur'an dan berbagai aktivitas ibadah yang semapt tertangkap kamera. Terselip lagi, sebuah harapan...agar kami pun berkesempatan menikmati jamuan Allah ini.

 

Hari Arafah, 9 Dzulhijjah 

Tibalah hari ini hari Arafah dimana jamaah haji melaksanakan salah satu rukun haji, yaitu wukuf di Arafah. Ingin sebenarnya menyaksikan bagaimana gambaran situasi di Padang Arafah lewat siaran live tersebut, tetapi sayang kesempatan ini terlewatkan karena saya ada keperluan ke luar rumah. Sesampainya di rumah pun langsung sibuk mempersiapkan sajian buka puasa.

Ngomong-ngomong tentang puasa, puasa Arafah ini adalah salah satu puasa yang dianjurkan oleh Rasulullah, bagi umat Islam yang sedang tidak menjalankan ibadah haji. Sebagaimana dalam sebuah hadits yang berbunyi: 

عن أبي قتادة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قالَ  : سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ؟ فَقَالَ: “يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

Dari Abu Qatadah RA berkata, Rasulullah SAW ditanya tentang puasa hari ‘Arafah? Rasul saw menjawab, ”Menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR Muslim)
 
Subhanalloh...Allah memberikan fadhilah/keutamaan dalam setiap perintah-Nya. Semoga Allah menerima amal ibadah para jama'ah haji yang sedang wukuf  di Arafah dan menerima pula puasa Arafah dari umat Islam  yang tidak sedang menunaikan ibadah haji, di mana pun berada. 

Nah, tahun ini, sedih juga rasanya tidak bisa ikut berpuasa bersama suami tercinta karena memang sedang udzur...Tetapi, aku tidak mau kehilangan kesempatan untuk mendapat pahala seperti orang yang berpuasa dan mengharap ridlo Allah tentunya, saya menyiapkan menu yang sederhana namun dibuat dengan bumbu "cinta" ...hehe, jadi terasa istimewa, insya Allah. 
 
"Barangsiapa menyediakan makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, niscaya ia akan mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikitpun." (HR. Ahmad dan An-Nasai serta dinyatakan shahih oleh Al-Albani)

Ingin tahu apa menunya? untuk ta'jilnya kali ini cukup dengan kurma, bala-bala plus teh manis. Sedang menu utamanya adalah nasi uduk, sate ayam, bali telur, kering tempe, lalapan, sambal plus kerupuk. Dan alhamdulillah yang menikmati sajian tersebut, bukan hanya suami tercinta saja, tetapi juga 2 orang teman, Erin dan Nino, yang sedang bersilaturrahmi ke tempat tinggal kami (emang mereka saya undang tepatnya...hehe, biar ramai dan terasa seperti Lebaran). Sambil menikmati hidangan, suami pun berinisiatif memutarkan video takbiran.


Allahu Akbar - Allahu Akbar - Allahu Akbar
Laa Ilaaha Illallahu Allahu Akbar
Allahu Akbar walillaahilhamd...
Sesaat ingatanku melayang ke sebuah kota yang ada di belahan bumi lain, tempat aku dilahirkan.
Gema takbir terdengar dari corong-corong masjid dan langgar. Allohu Akbar Allohu Akbar Allohu Akbar... Sesama tetangga saling berkirim makanan untuk saling berbagi kebahagiaan. Anak-anak  dengan gembiranya mengikuti takbir keliling sambil membawa obor kecil, dan tak sedikit juga yang didampingi orang tuanya. Saya dan Ummi sibuk beberes rumah dan menyiapkan makanan untuk kemudian dibawa ke masjid sebagai suguhan bagi mereka yang mengikuti takbir keliling (ini kebiasaan warga di daerah kami, untuk membawa makanan ke masjid agar bisa dijadikan suguhan bagi orang-orang setelah bertakbir keliling).  Abah dan kakak saya pun sibuk membantu pelaksanaan takbir keliling dan persiapan sholat Ied esok hari. 
Lantas kemana suamiku? Sejak beberapa bulan yang lalu suamiku berangkat ke Belgia untuk melanjutkan srudi S2. Ini Lebaran keduaku (setelah Idul Fitri kemarin) tanpanya. Tidak mudah memang... di saat yang seharusnya berbahagia bersama, kami harus terpisahkan jarak dan waktu. Meski kami selalu menghibur diri, bahwa insya Allah...Allah akan kembali menyatukan kita. Dan Alhamdulillah, komunikasi kami pun juga terbilang cukup lancar. Dalam sehari ini saja, suami sudah menelpon  lebih dari sekali...duh, senengnyaaa, Alhamdulillah. Bersyukur aku mempunyai keluarga yang selalu menghibur dan tidak membiarkan aku larut dalam kesedihan LDR. Insya Allah pasti ada hikmahnya... 
Kesibukanku aktif di organisasi dan lembaga sosial pun membuatku agak terhibur. Saat lebaran Haji ini pun aku kembali disibukkan menjadi salah satu panitia qurban. Menjadi panitia, ternyata tidak hanya sibuk saat hari -H- untuk membungkus-bungkus daging qurban yang akan dibagikan dan mendistribusikannya. Akan tetapi, sebelum hari -H- aku kebagian tugas juga untuk membantu menyusun data warga yang akan menerima bagian daging qurban, tentu kami priorotaskan mereka-mereka yang membutuhkan. Tapi subhanalloh, kelelahan itu seolah terbalas ketika melihat wajah-wajah penerima daging qurban itu tersenyum. Tentu aku tidak berharap semakin banyak orang yang tersenyum dalam kondisi seperti itu, yang artinya semakin banyak orang yang hidup berkekurangan. Tetapi, aku lebih berharap semakin banyak orang yang tersenyum ikhlas saat menyampaikan bahwa dia akan berkurban. Dan semoga aku menjadi salah satunya.
Seolah baru kemarin kejadiaanya ... serasa masih lekat dalam ingatan. Padahal kejadian itu sudah teradi empat tahun yang lalu. Tetapi kerinduan akan suasana seperti itu membuatku selalu teringat akan kisah-kisah indah di masa lalu...
Aroma nasi uduk yang wangi...membuyarkan lamunanku. Kemudian aku pun mempersilakan suami dan para tamuku menikmati hidangan yang telah kupersiapkan. Alhamdulillah suasana makan malam terasa hangat dalam keakraban, diiringi sayup-sayup takbir dari laptop suamiku. Fabiayyi 'alaa irobbikumaa tukadzdzibaan.
Hmm...suasana pun menjadi semakin semarak dengan alunan takbir. Sesekali kami juga melihat live streaming ibadah haji. Subhanalloh...di tengah kebahagiaan ini kami masih merasa, seperti ada yang kurang. Ya...sudah beberapa lebaran ini kami lalui dengan takbiran bersama "laptop". Anyway, jazakalloh khoir cintaku ^_^ ... sungguh inisiatifnya membuat suasana ini semakin "berasa" Lebaran. Dan satu yang perlu disyukuri juga adalah "kebersamaan" ini...semoga Allah mmeberi keberkahan.
Insya Allah, kami pun berencana bersama-sama menghadiri undangan sholat Ied dan silaturrahmi di KBRI besok. Aku yang sedang udzur (haidh) pun akan turut serta. Bukankah memang demikian anjurannya? Seluruh muslimah dianjurkan untuk menghadiri, setidaknya bisa bersilaturrahmi, mendengar khutbah dan juga untuk syiar Islam.
وَعَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ أُمِرْنَا أَنْ نُخْرِجَ اَلْعَوَاتِقَ, وَالْحُيَّضَ فِي الْعِيدَيْنِ; يَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ اَلْمُسْلِمِينَ, وَيَعْتَزِلُ اَلْحُيَّضُ اَلْمُصَلَّى مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Ummi ‘Athiyah berkata, ”Kami diperintahkan agar wanita yang bersih dan yang sedang haidh keluar pada Dua Hari Raya, hadir menyaksikan kebaikan dan khutbah umat Islam dan orang yang berhaidh harus menjauhi tempat shalat.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Allahu Akbar - Allahu Akbar - Allahu Akbar
Laa Ilaaha Illallahu Allahu Akbar
Allahu Akbar walillaahilhamd...
Mari kita terus kumandangkan  takbir samapai hari tasyrik berlalu (11-13 Dzulhijjah) dan semoga kita juga bisa melaksanakan kurban. Jikalau tahun ini belum, mari diikhtiarkan di tahun mendatang...Semoga Allah memudahkan.

وَاذْكُرُواْ اللّهَ فِي أَيَّامٍ مَّعْدُودَاتٍ

“Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al-Baqarah). Para ulama sepakat bahwa beberapa hari berbilang adalah hari Tasyriq, yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah.


Selamat hari raya Idul Adha 1432 H
Taqobbalallohu minna wa minkum
Mohon maaf lahir dan batin
Semoga kita bisa mengambil meneladani kesholehan, keikhlasan dan pengorbanan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as.

Leuven, 5 November 2011/9 Dzulhijjah 1432 H

sumber gambar/banner : www.acehdesain.wordpress.com

woensdag 2 november 2011

Cerita tentang sebuah kelahiran...

Dear all, 
ini sebuah tulisan yang (ternyataaa) belum sempat diposting...dan setelah sekian bulan baru ditemukan...hehe. I just want to share...^^ enjoy it!


----

Suasana hari ini, sedari pagi mendung...gerimis datang dan pergi. Matahari agak malu-malu memancarkan cahayanya. hmm, jadi semakin sendu...
Dalam kesenduan kulempar pandangan ke luar jendela...
ntah kenapa aku tersenyum...
teringat akan sebuah kisah yang indah...

Alkisah ada sebuah keluarga yang tinggal di kota dingin (yang sekarang, sudah tidak dingin lagi >.<) atau julukan lainnya adalah kota bunga (yang sekarang, "kota ruko" karena jumlah ruko-nya lebih banyak dibanding taman bunganya..huhu). Mereka berempat, ibu-bapak-2 anak, tinggal bersama keluarga besar. Mereka hidup rukun, bahagia, damai dan sentosa...(wih, kumplit yach...hehe).

Ramadhan 1403 H.

Ramadhan kali ini sungguh istimewa, khususnya bagi keluarga kecil ini. Ada apa gerangan? Oo... ternyata si ibu diperkirakan akan melahirkan buah hatinya pada bulan ini. Subhanalloh.... Meski ini bukan kehamilan yang pertama, si ibu sudah memiliki 2 putra yang ganteng-ganteng dan lucu, beliau tetap excited menyambutnya. Tentunya, beliau berharap semuanya berjalan lancar. Oh ya, si ibu ini sosok yang kuat loh. Di saat kehamilan yang mulai menginjak usia sembilan bulan, dengan perut yang semakin membuncit, beliau tetap menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasa. Mengajar. Beliau pun tetap menjalankan ibadah puasa Ramadhan...subhanalloh. Mungkin dalam batin si ibu, ia berpikir, ibadah yang ia kerjakan bisa men-stimulus- si anak yang masih kerasan tinggal di rahimnya. Stimulus untuk apa? Tentu saja, untuk menjadi ahli ibadah nantinya...amien

Robbi, kabulkan do’a ibunda yang sholehah ini…
jadikan bayi mungilnya kelak menjadi hamba-Mu yang sholehah.

Mendekati hari kelahiran si kecil, yang diprediksi oleh bidan (Ibu lebih sreg ke bidan. Bukan karena tidak percaya dokter, tetapi lebih karena pertimbangan biaya:-)) tinggal beberapa hari lagi, beliau pun mulai bersiap kalau-kalau perutnya terasa mules alias ada kontraksi. Si bapak membantu menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa jika sewaktu-waktu istri tercinta mengalami kontraksi. Si (calon) kakak pun tampak senang karena bocah yang masih berumur 4 dan 2 tahun itu akan punya "mainan" baru. Wah, bahaya nih! tp, ya... namanya juga anak-anak...tinggal diawasi aja nanti.

Hari demi hari berlalu...Ramadhan pun hampir meninggalkannya. Di 10 hari terakhir, dimana sebagian orang meramaikan swalayan, keluarga ini tetap tak lupa untuk meramaikan masjid. Apalagi di daerah itu, ada kebiasaan malam "likuran" (dalam bahasa Jawa,  likuran artinya 20-an). Dimana pada malam-malam ganjil, -malam ke-21, malam ke-23, dan seterusnya-, mereka melaksanakan sholat malam berjama’ah di masjid. Setelah sholat tarawih, mereka tidak langsung menutup dengan sholat witir, karena sholat witir ini akan dilaksanakan tengah malam nanti. Orang tua dan remaja, laki-laki dan perempuan, berbondong-bondong ke masjid di tengah malam. Untuk apa? Tak lain adalah menjemput lailatul qadar. Dalam keyakinan umat Islam, orang yang mendapatkannya akan dilipatgandakan pahala ibadahnya di malam itu, seperti ia telah melakukannya 1000 bulan atau 83 tahun. Subhanalloh…siapa yang tidak ingin? Yang usianya sampai 83 tahun saja, belum tentu seumur hidupnya ia gunakan untuk full ibadah.

Suatu hari, si ibu mulai terasa mules. Dengan sigap si bapak seera membawa istri tercintanya ke rumah bu bidan, yang kebetulan tidak terlalu jauh. Tentunya tak lupa ia bawa juga tas yang berisi perlengkapan ibu dan (calon) bayi. Alhamdulillah, akhirnya sampai di rumah bu bidan. Nah…setelah ditunggu-tunggu selama beberapa jam, ternyata tidak ada kontraksi lagi. Ya Alloh, si bayi ternyata masih senang tinggal di dalem perut ibu. Bu Bidan pun mempersilakan pasangan suami istri ini untuk pulang. 
Setelah sesampainya di rumah kembali, beberapa sanak saudara menyarankan agar si ibu minum air degan (air kelapa hijau) agar persalinannya lancar. Lagi-lagi…si bapak mengambil peran. Beliau segera mengambil sepeda motor honda merah kesayangannya untuk mencari air kelapa. 

Belum lama si bapak pergi, si ibu mules-mules lagi. Kali ini, rasanya lebih mules. Keluarga pun berinisiatif memanggil seorang dukun bayi yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Mbah Yah, namanya. Saat mbah dukun bayi ini datang, terdengarlah suara adzan dari corong masjid. Allohu akbar…allohu akbar…Allohumma bariklana fiima rozaktana wa qina a’dzaban naar. Mereka, termasuk si ibu, pun sejenak menikmati ta’jil kolak pisang. Baru 2-3 sendok kolak, perut si ibu kembali mules. Dan alhamdulillah…oeek..oeek…oeeek... lahirlah seorang bayi perempuan yang sehat. Si bapak yang baru datang, langsung sujud syukur begitu mendengar suara tangisan bayi dari kamarnya. Matanya berkaca-kaca…antara haru dan bahagia. 

sumber foto :  http://www.fulltimemuslim.com

Si bayi itu kemudian diberi nama Elly Romdliyana...^_^

Robbana hablana min azwajina wadzurriyatina qurrota a'yun waj'alna lil muttaqiina imaama.

A'udzubikalimatillahittaammaati min syarri maa kholaq.

----

Teriring salam rindu untuk Ummi dan almarhum Abah. Robbighfirlii waliwalidayya warhamhuma kamaa robbayaani shoghiro. I miss u my parents...may Allah always bless u wherever you are. amien

9 Juli 1983-9 Juli 2011
27 Ramadhan 1403 H - Sya'ban 1432 H


zaterdag 29 oktober 2011

Reminder : Winteruur 2011...Klok 1 uur achteruit!


Buat temen2 di Belgia dan sekitarnya (Eropa),

Jangan lupa ya...pada pukul 03.00 CET tgl 30 Oktober besok, jam kita diundur 1 jam, menjadi jam 02.00 CET.
Untuk lebih mudahnya, sebelum tidur malam ini...jamnya diubah ya... Tentunya penggatian jam ini, berpengaruh dengan jadwal sholat. tapi, bagi yg sudah menginstall jadwal sholat di islamicfinder.com, insya Allah sudah otomatis. Begitu pula dengan komputer/laptop, insya Allah kalau sudah di-setting lokasinya, insya Allah juga sudah otomatis berubah.

sumber : dari sini
sumber gambar : http://www.degroesbeek.nl

zondag 23 oktober 2011

Wat een speciaal middagmaal ^^

Dear all,

Saya pingin cerita nih.. sebetulnya sudah pekan lalu pingin ceritanya. Tapi baru sekarang berkesempatan...hehe

Ceritanya, rabu pekan lalu saya sudah mulai mengajar anak-anak (trio sholehah..^_^) ngaji lagi. Nah sewaktu baru sampai, si ibu menawari saya untuk makan siang dahulu. Kebetulan ia memasak menu rijst speciaal (nasi spesial). Baiklah, meski sebenarnya saya tidak terlalu lapar, saya meng-iya-kan saja. Itung-itung menyenangkan tuan rumah dan sekaligus penasaran sama olahan masakannya. Saya pun yakin akan ke-halal-an makanannya, karena saya mengenalinya sebagai muslimah yang cukup menjaga makanannya.

Tarraa... tak lama kemudian, keluarlah ia dengan membawa nampan yang berisi sepiring nasi dengan ayam (sekilas seperti nasi kuning), semangkuk kecil salad dan air minum. Masya Allah....ik vind dat is lekker. Saya pun menanyakan apa namanya, bagaimana cara menikmatinya sampai cara membuatnya. Ia pun dengan penuh antusias menjelaskannya secara detail. Sambil mempersilakan saya makan, dia menjelaskan bagaimana cara menikmati sajian ini. nah...ketika ia menjelaskan, kening saya langsung berkerut an perut juga agak eneg. Baru juga mendengar penjelasannya...hhh. Bagaimana tidak? dia bilang bahwa salad itu (yang berisi yoghurt natuur dan mentimun) dituangkan ke atas nasi (dia menyebutnya, rijst curry met kip en gebakken aubergine). What! Saya belum pernah makan nasi campur yoghurt. Bayangan saya, pasti rasanya eneg... Hmm, saya pun mengatakan padanya bahwa saya belum pernah makan seperti itu. ketika saya balik bertanya, mengapa saladnya harus dituang ke nasi, bukannya dimakan terpisah, dia menjawab bahwa kalau tanpa yoghurt itu mereka akan kesulitan menelannya (alias keseretan, dalam bahasa Jawa).

Akhirnya, saya menikmati hidangannya secara terpisah karena bayangan eneg itu. Setelah hampir setengah piring nasinya habis, saya coba ambil sesendok salad dan saya taruh di nasi, kemudian saya makan. Hmm...lumayan juga, ternyata tidak se-eneg yang saya bayangkan, meski tetep agak aneh di lidah. Alhamdulillah akhirnya, semangkuk salad dan sepiring nasinya telah berpindah ke perut saya. Dan subhanalloh...makanan ini cukup "berat", sampai-sampai saya ga perlu makan malam...hehe. berasa masih penuuh aja nih perut...^_^

Alhamdulillah...


 *foto di atas diambil dari berbagai sumber, untuk sekedar mendeskripsikan resepnya...Selamat mencoba (kalau ada yang kepengen)^^

woensdag 12 oktober 2011

I'm back...^__^



Dear all,

Alhamdulillah, setelah hampir sebulan tidak corat-coret lagi atau lebih tepatnya tidak pencat-pencet keyboard untuk menulis, saya kembali lagi....

Bismillah, moga kali ini bisa terus...istiqomah...

Bersyukur, saya sudah bergabung dengan grup Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) Luar Negeri (meski saya belum jadi ibu, saya ikuuut aja...hehe, mg ntar lagi tiba giliran jd ibu...amin), yang kebetulan beberapa hari yang lalu (tgl 8 Oktober 2011) mengadakan kelas menulis online. Sayangnya saya tidak bisa mengikuti kelas tersebut...soalnya, pelaksanaannya masih tengah malam waktu belgia (jm 3 pagi CET euy.). masih "berlayar di pulau kapuk" lah ane...^^

Nah, alhamdulillah, kemarin si Pemateri kelas menulis online, mbak Erlina Ayu yang sudah menghasilkan belasan buku anak itu memposting apa yang disampaikan dalam kelas plus tanya jawabnya. kumplit dach! Apalagi materinya juga tepat sekali, setidaknya tepat dengan kondisi saya saat ini. Serasa ditampar deh ... Hmm, diingatkan githu maksudnya. Ingin tahu tema-nya? Writer's block. Tuh, betul kan seperti apa yang terjadi dengan saya akhir-akhir ini? buktinya, blog ini ga ter-update, note facebook juga ga bertambah, dan pe-er menulis juga belum dikerjain (padahal DL-nya dah semakin dekat aja...huhu).

Intinya, writer's block itu suatu kondisi dimana kita bingung mau nulis apa. Dan dari saran-saran yang diajukan oleh pemateri, saya bikin formula untuk saya coba praktekkan...
Caranya adalah...
1. Buka mata, buka telinga, buka hati : terus melihat dan mendengar apa yang terjadi di sekitar kita, kemudian resapi/renungkan dalam hati... tentunya, dalam rangka untuk mencari ide/inspirasi menulis :-)
2. Teruslah menulis : kalau ada ide, sekecil apapun, tuliskanlah! Bisa juga dengan membuat coretan-coretan di buku dahulu. Kalau sudah "buntu" dengan satu ide. jangan dipaksakan terus... biarkan saja tulisan itu (di save aja..hehe, kapan2 dilanjutkan, kalau sudah mood lagi:-)). Coba cari ide yang lain....
Terima kasih mbak Erlina dan Ibu-ibu semuanya atas inspirasinya...

So, happy writing! keep writing, keep learning!

Bismillah...semoga Allah memudahkan^__^