Posts tonen met het label kisah. Alle posts tonen
Posts tonen met het label kisah. Alle posts tonen

zondag 11 augustus 2013

Cerita Victoria



Dear all,

Kali ini saya ingin cerita tentang sosok Victoria yang kutemui di acara Benefit Ramadan yang lalu.Sebenarnya kali itu bukanlah kali pertama aku bertemu dengannya. Sebelumnya, aku sudah melihatnya sebagai MC sebuah acara bertajuk "Women in Islam" yang diselelnggarakan oleh IMSAL dan dihadiri oleh pembicara dari Bridges Foundation, UK yakni Faddel Soliman. Kali kedua, aku bertemu dengannya saat acara Benefit Al Fath, sebuah acara penggalangan dana untuk pembangunan Masjid Al Fath di Leuven. Pada waktu itu dia tampil untuk memberi tausyiah tentang Shodaqoh (dalam bahasa Belanda). Di kedua pertemuan pertama, saya belum sempat ngobrol langsung dengannya.

Alhamdulillah di acara Benefit Ramadan 2013 ini saya duduk semeja dengannya, bahkan bersebelahan. Akhirnya kami saling berkenalan dan bertukar pikiran.

Victoria ini adalah muslimah yang tinggal di Tienen, kota kecil yang tak jauh dari Leuven, sekitar 45 menit - 1 jam dengan bus. Dia kini bekerja sebagai researcher di UGhent, penerjemah, dan berbagai aktivitas sosial lainnya. Dia yang asli Belgia ini pun cukup terbuka orangnya, termasuk ketika menceritakan perjalanannya mengenal Islam.

Victoria tumbuh di lingkungan keluarga Katolik. Dia sejak kecil hingga remaja rajin ke gereja. Bahkan tak jarang, orang lain menganggapnya aneh. Masih muda koq rajin ke gereja? Itu yang mereka duga. Memang biasanya gereja selalu penuh dengan orang-orang tua.

Victoria remaja tumbuh dengan jiwa sosial dan religius. Dia berteman dengan siapa saja dan sepekan sekali dia berguru pada seorang pastur. Suatu ketika dia merasakan ada yang "tidak beres" dalam jiwanya. Tubuhnya pun sempat sakit dan harus dirawat secara intensif. Setelah berkonsultasi dengan guru spiritualnya, dia pun memutuskan untuk "berpuasa". Sang guru pun sempat berpesan, agar dia menghentikan "puasanya" jika ia sakit. Victoria yang kala itu berusia 17 tahun, mengatur pola makannya, seperti layaknya seorang muslim berpuasa. Ia pun mulai merasakan manfaatnya.

Seiring berjalannya waktu, ia memiliki teman-teman yang beragama Islam. Seingatnya, ada 3 anak laki-laki yang dikenalnya suka "minum", tapi suatu saat dia melihatnya mereka tidak "minum". Dia sangat kagum dan bertanya-tanya, apakah mereka sedang menjalani terapi? mengingat biasanya mereka selalu dengan botolnya, tetapi beberapa hari ini tidak. Selidik punya selidik, ternyata ketiga teman laki-lakinya itu sedang berpuasa Ramadhan. Wow, semakin kagumlah dia dengan "puasa". Akhirnya dia baru tahu, bahwa dalam Islam itu ada kewajiban untuk berpuasa, tetapi tidak hanya tidak boleh makan dan minum tetapi juga menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang. Dia semakin yakin dengan puasa yang sudah dijalaninya, bahkan ia juga mencoba untuk tidak "bermaksiat" selama puasa.

Victoria pun menceritakan tentang kebiasaannya berpuasa pada teman-temannya yang muslimah. Hatinya pun terharu, ketika mereka menyebut bahwa dia adalah saudarinya. Dengan tang terbuka mereka meladeni rasa ingin tahu Victoria tentang Islam. Dia pun kerap kali diundang untuk berbuka puasa bersama oleh teman-temannya yang muslimah, meskipun mereka tahu bahwa Victoria bukanlah seorang muslimah.

Victoria juga termasuk orang yang rasa ingin tahunya besar, termasuk tentang islam. Banyak buku yang dilahapnya, browsing, bertanya, tak lelah semua itu ia lakukan. Dan memang benar, Allah akan memberikan hidayah pada mereka yang mencarinya.

Menjadi seorang muslimah, adalah sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Dia tidak ingin keputusan itu sekedarnya saja. Bahkan ia menargetkan bahwa ia harus benarbenar paham tentang Islam, Ia harus sudah membaca Al Qur'an secara keseluruhan, ia harus bisa berbahasa Arab (karena Al Qur'an ditulis dalam bahasa Arab), dan beberapa syarat yang ia buat sendiri. Butuh waktu bertahun-tahun ia memantapkan hatinya dan mempersiapkan dirinya, alhamdulillah di usianya yang ke 23 dia memutuskan untuk menjadi seorang muslimah. Konflik dalam keluarga terkait dengan ke-Islam-annya, ia hadapi dengan sabar. Dia tetap baik dan hormat pada keluarga besarnya.

Setelah menjadi seorang muslimah, ia merasakan ketenangan hati yang luar biasa, kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan. Ia memiliki tante dan seorang sepupu yang sangat baik, mereka yang paling bisa menerima keputusannya. Tanpa sepengetahuan tante dan sepupunya, Victoria sering mendo'akan agar mereka juga mendapat hidayah Islam, seperti dirinya.

Hal yang luar biasa pun terjadi! Empat tahun setelah ia mengucap syahadat di Islamic centre Brussels, dia kembali ke masjid itu. tapi kali ini ia tidak sendiri, ia bersama seorang gadis kecil yang merupakan buah cintanya dengan seorang laki-laki keturunan maroko. Setelah ia sholat, seperti biasa ia berdo'a. tak jauh dari tempatnya duduk ada seorang muslimah yang juga tengah berdo'a. Dia merasa mengenal sosok wanita itu. Dia dekati...dan ternyata, wanita yang berjilbab itu adalah sepupunya yang sudah lama tidak kontak dengannya. Dia lah sepupu yang sering ia sebut dalam do'anya. Allohu Akbar! Allah mengabulkan do'anya... Mereka pun berpelukan dalam haru.

Kejadian di Islamic center itu sangat istimewa buat Victoria. Dia pun menceritakan hal ini kepada teman-temannya, yang dulu sering mengundangnya berbuka puasa dan kini pun menjadi seperti saudarinya sendiri. Teman-temannya tersenyum bahagia dan larut dalam haru. Hingga tiba-tiba ada salah satu dari mereka bersuara, "Allohu Akbar, betapa Allah mengabulkan do'a kita semua. Allah Maha Baik". "Do'a kita?" Victoria langsung menyela. "Ya, do'a kita." jawab temannya mantap. "Tahukah kamu Victoria, sejak kau menceritakan tentang keingintahuanmu tentang islam, dan kau berinteraksi lebih intens dengan kami saat berbuka puasa dan seterusnya. Kami melihat kesungguhanmu dan kebersihan hatimu. Kami pun juga mendo'akanmu agar kau mendapat hidayah", lanjutnya. Victoria pun tak dapat berkata-kata lagi, air matanya tak dapat lagi ditahan, dan akhirnya mereka pun saling berpelukan.

Ya, sekali lagi kekuatan do'a. Allah ingin mengajariku tentang kekuatan do'a melalui cerita Victoria. Bagi seorang mukmin, tiadalah ceritanya putus asa. karena yakin, ada Allah yang Maha Kuasa. terus berdo'a...ketuk pintu langit dengan segala daya, upaya dan air mata.

terima kasih Victoria, semoga Allah meneguhkan keimananmu dan membukakan jalan kebaikan untukmu.

Dari Abu Ad-Darda’ dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ “
Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.”
(HR. Muslim no. 4912)

Leuven, 13 Juli 2013 / 4 Ramadhan 1434 H

dinsdag 2 april 2013

Kisah Cinta Fatimah ra dan Ali ra

sumber gambar : dari sini


Siapa yang berkata bahwa kisah cinta sejati terbaik di muka bumi ini adalah roman antara Romeo dan Juliet karya William Shakepeare, sesungguhnya belum pernah mendengar kisah cinta Ali bin Abi Thalib RA, sang pemuda cekatan yang cinta akan ilmu dan putri Sang Rasulullah Sallahu ‘alaihi Wasallam sendiri, si wanita tegar yang lembut, Fatimah Az zahra. Pasti, karena kisah Romeo dan Juliet tak lebih dari sebuah roman yang dilukis di atas kertas. Berbanding terbalik dengan kisah yang dilandasi iman dan cinta pada Allah Subhanahu wata’alla dan ini benar-benar terjadi sekitar 14 abad silam menghiasi indahnya langit jazirah Arab pada masa itu.

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah, Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.
Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. 
Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. 
Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.

’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.


Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.


Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.
Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”
Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”
Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:
“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” 
(kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4)
 
sumber : dari sini

dinsdag 15 januari 2013

Sa'id ibnul Musayyab

disampaikan oleh ust Roni Abdul Fatah
pada kajian Siroh Sahabat di MQ FM pada hari Selasa, 15 Januari 2013

Beliau dilahirkan di zaman kekhalifahan Umar ra. Beliau mendapat julukan sebagai kibar at tabi'in / pemimpin para Tabi'in. Tabi'in adalah generasi yang tidak berjumpa nabi SAW tapi berjumpa dengan para sahabat. Sahabat Nabi yang hidup sezaman dengan beliau adalah khalifah Umar bin Khoththob ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib ra, Abu Hurairah ra, Aisyah ra, dan sebagainya. Beliau juga menimba ilmu pada para sahabat tersebut.

Karakter beliau adalah ahli beribadah, wara', qana'ah, mencintai sholat berjama'ah. Pada suatu ketika, beliau pernah menyampaikan, "aku tidak pernah meninggalkan sholat berjama'ah, shaf pertama, takbir imam yang pertama, selama 40 tahun". Masya Allah... sungguh luar biasa. Mengingat kita semua sudah tahu fadhilah dari sholat berjama'ah dan di awal waktu lagi. jadi...plus plus. Padahal beliau adalah seseorang yang aktivitasnya luar biasa, seorang ulama besar dan pedagang. Beliau berfatwa di saat para sahabat masih hidup. Hal ini menunjukkan ketinggian ilmunya. Umar bin abdul Aziz pun pernah berguru pada beliau. Beliau banyak pula meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah. Beliau ini tidak pernah meninggalkan majelis yang dibimbing Abu Hurairah. Abu Hurairah sendiri sangat menyayanginya, karena sudah tampak kecerdasan, kuat hafalannya dan kesholehannya, akhirnya beliau dinikahkan dengan putri Abu Hurairah. Beliau sudah hafal Al Qur'an pada usia 5-6 th.

Karakternya ini sesuai dengan namanya. Kata sa'id dalam bahasa Arab artinya bahagia, beliau merasa bahagia dalam keta'atan kepada Allah.

Beliau tidak hanya rajin menuntut ilmu, tetapi juga gemar mengamalkannya. Setiap 3 hari sekali beliau khatam Al Qur'an. Beliau hafal banyak hadits dan beliau pun mampu menafsirkan mimpi. Beliau org yg zuhud, hatinya dipenuhi urusan akhirat. "Rasulullah bersabda jika ada seseorang yang hatinya penuh dengan urusan akhirat, maka dunia akan datang kepadanya dengan bertekuk lutut".

Khalifah Abdul Malik bin Marwan pernah berusaha meminang putri Sa'id untuk putranya, tp ditolaknya. Sampai beliau dihukum cambuk karena khalifah merasa malu. Akhirnya Sa'id malah menikahkan putrinya dengan Abu Wada'ah. Abu Wada'ah ini adalah orang awam yang hidupnya berkekurangan, namun ia aktif hadir di majelis ilmunya.Sa'id ibnul Musayyab menolak pinangan putra khalifah Abdul Malik bin Marwan hanya karena tidak ingin putrinya tersilaukan dengan "dunia".

Masya Allah...semoga kita semua bisa meneladani sosok Sa'id ibnul Musayyab ini. aamiin

wallohu a'lam bish showab




dinsdag 24 april 2012

Sebotol Air Zam-Zam



Kali ini saya tidak akan berkisah tentang Kisah Air Zam-Zam yang mungkin bisa kita temui di buku kisah Nabi Ismail. Bukan juga tentang cerita pengalaman haji, karena memang saya belum pernah menginjakkan kaki di Tanah Suci. Semoga Allah memperkenankan saya dan kita semua untuk menjadi tamu-Nya... aamiin...

Nah, lantas cerita tentang apa? saya ingin sedikit berbagi kebahagiaan saja, bagaimana saya mendapat sebotol Air Zam-Zam ini...

Ceritanya, beberapa waktu yang lalu saya pergi ke sebuah toko yang menjual buku-buku dan CD Islami, aneka perlengkapan muslim. Ini bukanlah pertama kalinya saya datang ke toko ini. Hmm, setelah memilih beberapa barang yang ingin saya beli, saya pun menuju kasir untuk membayar. Alhamdulillah tanpa basa-basi, si penjual ini menyodorkan sebotol air Zam-Zam berukuran 1 lt. Meski dia menyerahkannya dengan bahasa Perancis, saya menangkap bahwa ini hadiah :-) Alhamdulillah...

Baru beberapa menit yang lalu, saat melempar pandangan ke seluruh penjuru isi toko itu, saya sempat terhenti di salah satu sudut toko. Dimana tertata rapi beberapa barang yang biasa dipakai jama'ah haji, seperti gamis dan perlengkapan haji lainnya. Dalam hati, saya sempat berdo'a, "Ya Allah, panggillah hamba dan suami menjadi tamu-Mu..." Mungkin akan meleleh air mata yang mulai menggenangi sudut mata ini, kalau tidak kulihat ada beberapa pengunjung toko yang lain yang berdiri tidak jauh dariku. Hmm..hatiku kembali hanyut...syahdu...

Dan, ketika akan keluar toko...saya mendapatkan sebotol Air Zam-zam. Semoga ini isyarat baik dari-Mu, insya Allah...semoga Kau bukakan jalan...semoga Kau mudahkan...semoga Kau berkahi...

aamiin yaa Robb...


donderdag 15 maart 2012

Kisah Iblis bertemu Rasulullah SAW (3)






Wahai Muhammad, sesungguhnya diantara ummatmu ada orang yang menunda-nunda shalatnya dari waktu ke waktu. Ketika ia hendak menjalankan shalat maka saya selalu berada padanya dan mengganggu sembari berkata kepadanya, 'Masih ada waktu, teruskan engkau sibuk dengan urusan dan pekerjaan yang engkau lakukan' sehingga ia menunda shalatnya, dan kemudian shalat diluar waktunya. Akibatnya dengan shalat yang dikerjakan diluar waktunya itu akan dipukul di kepalanya. Kalau saya merasa kalah, maka saya mengirim kepadanya salah seorang dari setan-setan manusia yang akan menyibukkan waktunya. Kalau dengan usaha itu saya masih kalah, maka saya tinggalkan sampai ia menjalankan shalat.

Ketika dalam shalatnya saya berkata kepadanya, 'Lihatlah ke kanan dan ke kiri'. Akhirnya ia melihat. Maka pada saat itu wajahnya saya usap dengan tangan saya, kemudian saya menghadap didepan matanya sembari berkata, 'engkau telah melakukan apa yang tidak akan menjadi baik lamanya'.

Wahai Muhammad, engkau tahu, bahwa orang yang banyak menoleh dalam shalatnya, Allah akan memukul kepalanya dengan shalat tersebut. Kalau dalam shalat ia sanggup mengalahkan saya, sementara ia shalat sendirian, maka saya perintahkan untuk tergesa-gesa. Maka ia mengerjakan shalat seperti ayam yang mencocok benih-benih untuk dimakan dan segera meninggalkannya. Kalau ia sanggup mengalahkan saya, dan shalat berjamaah, maka saya kalungkan rantai dilehernya. Ketika ia sednag ruku' saya tarik kepalanya keatas sebelum imam bangun dari ruku' dan saya turunkan sebelum imam turun. Wahai Muhammad, engkau tahu, bahwa orang yang melakukan shalat seperti itu, maka batal shalatnya, dan di hari Kiamat nanti Allah akan menyalin kepalanya dengan kepala keledai.

Kalau dengan cara tersebut saya masih kalah, maka saya perintahkan meremas-remas jari-jemarinya sehingga bersuara, sedangkan ia sedang shalat, karenanya ia tidak termasuk orang-orang yang bertasbih kepadaku padahal ia sedang shalat.

Kalau dengan cara tersebut masih juga tidak mempan, maka saya tiup hidungnya sehingga ia menguap, sementara ia sedang shalat. Kalau ia tidak menutupi mulutnya dengan tangannya maka setan masuk kedalam perutnya, sehingga ia semakin rakus dengan dunia dan berbagai perangkapnya. Ia akan selalu mendengar dan taat kepadaku.

Bagaimana ummatmu bisa bahagia wahai muhammad, sementara saya memerintah orang-orang miskin untuk meninggalkan shalat, dan saya berkata kepadanya, 'Shalat bukanlah kewajiban kalian, shalat hanya kewajiban orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah'. Saya pun berkata kepada orang yang sakit, 'Tinggalkan shalat, karena shalat bukanlah kewajibanmu. Shalat hanyalah kewajiban orang-orang yang diberi nikmat kesehatan. Sebab Allah sudah berfirman, '...dan tidak apa-apa bagi seorang yang sedang sakit...' (QS An-Nur:61). Kalau engkau sudah sembuh baru melakukan shalat. Akhirnya ia mati dalam kondisi kafir. Apabila ia mati dengan meninggalkan shalat ketika sedang sakit, maka ia akan bertemu Allah dengan dimurkai.

Wahai Muhammad, jika saya menyimpang dan berdusta kepadamu, maka hendaknya engkau memohon kepada Allah agar saya dijadikan debu yang lembut. Wahai Muhammad, apakah engkau masih juga merasa gembira terhadap ummatmu, sementara saya bisa memurtadkan seperenam dari ummatmu untuk keluar dari Islam?".

Kemudian Rasulullah SAW meneruskan pertanyaannya, "Wahai mahluk yang terkutuk, siapa teman dudukmu?".
"Orang-orang yang suka makan riba", jawab Iblis.

"Lalu siapa teman dekatmu?", tanya Rasulullah SAW.
"Orang yang berzina", jawab Iblis.

"Siapa teman tidurmu?", tanya Rasulullah SAW.
"Orang yang mabuk", jawab Iblis.

"Siapa tamumu?", tanya Rasulullah SAW.
"Pencuri", jawab Iblis.

"Siapa utusanmu?", tanya Rasulullah SAW.
"Tukang sihir", jawab Iblis.

"Apa yang menyenangkan pandangan matamu?", tanya Rasulullah SAW.
"Orang yang bersumpah dengan talak", jawab Iblis.

"Siapa kekasihmu?", tanya Rasulullah SAW.
"Orang yang meninggalkan shalat Jum'at", jawab Iblis.

"Wahai mahluk yang terkutuk, apa yang mengakibatkan punggungmu patah?", tanya Rasulullah SAW.
"Suara ringkik kuda untuk berperang membela agama Allah SWT", jawab Iblis.

"Apa yang membuat hatimu panas?", tanya Rasulullah SAW.
"Banyak beristighfar kepada Allah, baik di malam hari maupun di siang hari", jawab Iblis.

"Apa yang membuatmu merasa malu dan hina?", tanya Rasulullah SAW.
"Sedekah secara rahasia", jawab Iblis.

"Apa yang menjadikan matamu buta?", tanya Rasulullah SAW.
"Shalat diwaktu sahur", jawab Iblis.

"Apa yang dapat mengendalikan kepalamu?", tanya Rasulullah SAW.
"Memperbanyak shalat berjamaah", tutur Iblis.

"Siapa orang yang paling membahagiakanmu?", tanya Rasulullah SAW.
"Orang yang sengaja meninggalkan shalat", tutur Iblis.

"Siapa yang paling celaka menurut engkau?", tanya Rasulullah SAW.
"Orang-orang yang kikir", jawab Iblis.

"Apa yang paling menyita pekerjaanmu?", tanya Rasulullah SAW.
"Majelis orang-orang alim", jawab Iblis

"Bagaimana cara engkau makan?", tanya Rasulullah SAW.
"Dengan tangan kiriku dan jari-jemariku", jawab Iblis.

"Dimana engkau mencari tempat berteduh untuk anak-anakmu diwaktu panas?", tanya Rasulullah SAW.
"Dibawah kuku manusia", jawab Iblis.

"Berapa kebutuhan yang pernah engkau minta kepada Tuhanmu?", Tanya Rasulullah SAW.
"Sepuluh macam", jawab Iblis.

"Apa saja itu wahai mahluk terkutuk?", tanya Rasulullah SAW.
Iblis pun menjawab : "Saya meminta-Nya agar saya bisa berserikat dengan anak-cucu Adam dalam harta kekayaan dan anak-anak mereka. Akhirnya Allah mengizinkanku berserikat dalam kelompok mereka. Itulah maksud firman Allah SWT : 'Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka'. QS.Al-Isra':64).

Setiap harta yang tidak dikeluarkan zakatnya, maka saya ikut memakannya. Saya juga ikut makan makanan yang bercampur riba dan haram serta segala harta yang tidak dimohonkan perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.

Setiap orang yang tidak memohon perlindungan kepada Allah dari setan ketika bersetubuh dengan istrinya, maka setan akan ikut bersetubuh. Akhirnya melahirkan anak yang mendengar dan taat kepadaku.

Begitu pula orang yang naik kendaraan dengan maksud mencari penghasilan yang tidak dihalalkan, maka saya adalah temannya. Itulah maksud firman Allah SWT: 'Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki'. (QS.Al-Isra':64).

Saya memohon kepada-Nya agar saya punya rumah, maka rumahku adalah kamar mandi. Saya memohon agar saya punya masjid, akhirnya pasar menjadi masjidku. Saya memohon agar saya punya Al-Qur'an, maka syair adalah Al-Qur'anku. Saya memohon agar saya punya adzan, maka terompet adalah penggilan adzanku. Saya memohon kepada-Nya agar saya punya tempat tidur, maka orang-orang mabuk adalah tempat tidurku. Saya memohon agar saya memiliki teman-teman yang menolongku, maka kelompok Al-Qadariyyah menjadi teman-teman yang membantuku.

Dan saya memohon agar saya memiliki teman-teman dekat, maka orang-orang yang menginfakkan harta kekayaannya untuk kemaksiatan adalah teman dekatku. Itulah maksud firman Allah SWT : 'Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya'. (QS.Al-Isra':27) ".

Rasulullah SAW berkata kepada Iblis, "Andaikan tidak setiap apa yang engkau ucapkan itu didukung oleh ayat-ayat dari Kitab Allah tentu aku tidak akan membenarkanmu". Lalu Iblis berkata lagi, "Wahai Muhammad, saya memohon kepada Allah agar saya bisa melihat anak-cucu Adam, sementara mereka tidak bisa melihatku. Kemudian Allah menjadikan aku bisa mengalir melalui peredaran darah mereka. Diriku bisa berjalan kemanapun sesuai kemauan diriku dan dengan cara bagaimana pun. Kalau saya mau dalam sesaat pun bisa. Kemudian Allah berfirman kepadaku. 'Engkau bisa melakukan apa saja yang kau minta'. Akhirnya saya merasa senang dan bangga sampai hari Kiamat. Sesungguhnya orang yang mengikutiku lebih banyak daripada orang yang mengikutimu. Sebagian besar anak-cucu Adam akan mengikutiku sampai hari Kiamat".

Iblis melanjutkan lagi, "Saya memiliki anak yang saya beri nama Atamah. Ia akan kencing di telinga seorang hamba ketika ia tidur meninggalkan shalat Isya'. Andaikan tidak karenanya tentu manusia tidak akan tidur terlebih dahulu sebelum menjalankan shalat.

Saya juga punya anak yang saya beri nama Mutaqadhi. Apabila ada seorang hamba melakukan ketaatan (ibadah) dengan rahasia dan ingin menutupinya, maka anak saya tersebut senantiasa membatalkannya dan dipamerkan ditengah-tengah manusia, sehingga semua manusia tahu. Akhirnya Allah membatalkan sembilan puluh sembilan dari seratus pahala. Sehingga yang tersisa hanya satu pahala. Sebab setiap ketaatan yang dilakukan secara rahasia akan diberi seratus pahala.

Saya punya anak lagi yang bernama Kuhyal, dimana ia bertugas mengusapi celak mata semua orang yang sedang berada di majelis pengajian dan ketika khatib sedang berkuthbah. Sehingga mereka terkantuk dan akhirnya tidur, tidak bisa mendengarkan apa yang dibicarakan para ulama. Mereka yang tertidur tidak akan ditulis pahala sedikitpun untuk selamanya".

Iblis melanjutkan lagi, "Setiap kali ada perempuan keluar mesti ada setan yang duduk di pinggulnya, ada pula yang duduk di daging yang mengelilingi kukunya. Dimana mereka akan menghiasi kepada orang-orang yang melihatnya. Kedua setan itu kemudian berkata kepadanya, 'Keluarkan tanganmu'. Akhirnya ia mengeluarkan tangannya, kemudian kukunya tampak, lalu kelihatan nodanya".

Iblis melanjutkan lagi, "Wahai Muhammad, sebenarnya saya tidak bisa menyesatkan sedikit pun. Akan tetapi saya hanya akan mengganggu dan menghiasi. Andaikan saya memiliki hak dan kemampuan untuk menyesatkan, tentu saya tidak membiarkan segelintir manusia pun di muka bumi ini yang masih sempat mengucapkan dua kalimat Syahadat, 'Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan-Nya'. Tidak akan ada lagi orang yang shalat dan berpuasa. Sebagaimana engkau wahai Muhammad, tidak berhak untuk memberikan hidayah sedikit pun kepada siapa saja. Akan tetapi engkau adalah seorang utusan dan penyampai amanat dari Allah. Andaikan engkau memiliki hak dan kemampuan untuk memberi hidayah, tentu engkau tidak akan membiarkan segelintir orang kafir pun di muka bumi ini. Engkau hanyalah sebagai argumentasi (Hujjah) Allah SWT terhadap mahluk-Nya. Sementara saya hanyalah menjadi sebab celakanya orang yang sebelumnya sudah dicap oleh Allah sebagai orang celaka. Orang yang bahagia dan beruntung adalah orang yang dijadikan bahagia oleh Allah sejak dalam perut ibunya, sedangkan orang yang celaka adalah orang yang dijadikan celaka oleh Allah sejak dalam perut ibunya".

Rasulullah SAW kemudian membacakan firman Allah SWT : "Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia ummat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang-orang yang diberi Rahmat oleh Tuhanmu'. (QS.Hud:118-119).

Kemudian beliau Nabi SAW melanjutkan dengan firman Allah SWT : "Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku". (QS.Al-Ahzab:38).

Lantas Rasulullah SAW berkata lagi kepada iblis, "Wahai Abu Murrah (iblis), apakah engkau masih mungkin bertobat dan kembali kepada Allah, sementara saya akan menjaminmu masuk surga".

Iblis menjawab, "Wahai Rasulullah, Ketentuan telah memutuskan dan Qalam pun telah kering dengan apa yang terjadi seperti ini hingga hari Kiamat nanti. Maka Maha Suci Allah Yang telah menjadikanmu sebagai tuan para Nabi dan Khathib para penduduk Surga, Dia telah memilih dan mengkhususkan dirimu. Sementara Dia telah menjadikan saya sebagai tuan orang-orang celaka dan Khatib para penduduk Neraka. Saya adalah mahluk yang celaka lagi terusir. Ini adalah akhir dari apa yang saya beritahukan kepadamu, dan saya mengatakan sejujurnya ".

Segala Puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam, Awal dan Akhir, Zhahir dan Bathin Dan semoga Shalawat dan Salam sejahtera tetap diberikan kepada seorang Nabi yang Ummi dan kepada para keluarga dan sahabatnya serta para Utusan dan para Nabi.
------------------------------------------

Dikutip dari Syajaratul Kaun, doktrin tentang pribadi manusia pilihan, Muhammad SAW, yang ditulis oleh Asy-Syaikh Al-Akbar Muhyidin Ibnu Arabi Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali Al-Hatimi Ath-Tha'i Al-Andalusia), 17 Ramadhan 560 H - 22 Rabi'uts-Tsani 638 H

Kisah Iblis bertemu Rasulullah SAW (2)



Orang yang paling dibenci iblis

Rasulullah SAW mulai melemparkan pertanyaan kepada iblis, "Jika engkau bisa menjawab dengan jujur, maka coba ceritakan kepadaku, siapa orang yang paling engkau benci?"

Iblis menjawab dengan jujur, "Engkau, wahai Muhammad, adalah orang yang paling aku benci dan kemudian orang-orang yang mengikuti agamamu."

"Lalu siapa lagi yang palimg engkau benci?" tanya Rasulullah SAW.
"Seorang pemuda yang bertakwa dimana ia mencurahkan dirinya hanya kepada Allah SWT ", jawab iblis.

"Siapa lagi?" tanya Rasulullah SAW.
"Orang alim yang wara' (menjaga diri dari syubhat) lagi sabar," jawab iblis.

"Siapa lagi?" tanya Rasulullah SAW.
"Orang yang senantiasa melanggengkan kesucian dari tiga kotoran (hadats besar, kecil, dan najis)", tutur iblis.

"Siapa lagi?", tanya Rasulullah SAW.
"Orang fakir yang senantiasa bersabar, yang tidak pernah menuturkan kefakirannya kepada siapapun dan juga tidak pernah mengeluhkan penderitaan yang dialaminya," jawab iblis.

"Lalu dari mana engkau tahu kalau ia bersabar?" tanya Rasulullah SAW.
"Wahai Muhammad, bila ia masih dan pernah mengeluhkan penderitaannya kepada mahluk yang sama dengannya selama tiga hari, maka Allah SWT tidak akan mencatat perbuatannya dalam kelompok orang-orang yang bersabar," jelas iblis.

"Lalu siapa lagi wahai iblis?" tanya Rasulullah SAW.
"Orang kaya yang bersyukur", tutur iblis.



"Lalu apa yang bisa memberi tahu kepadamu, bahwa ia bersyukur?" Tanya Rasulullah SAW.
"Bila saya melihatnya ia mengambil kekayaannya dari apa saja yang dihalalkan dan kemudian disalurkan pada tempatnya", tutur iblis.

"Bagaimana kondisimu apabila ummatku menjalankan shalat?" Tanya Rasulullah SAW.
"Wahai Muhammad, saya langsung merasa gelisah dan gemetar," jawab iblis.

"Mengapa wahai mahluk yang terkutuk?" tanya Rasulullah SAW.
"Sesunguhnya apabila seorang hamba bersujud kepada Allah SWT sekali sujud, maka Allah SWT akan mengangkat satu derajat (tingkat). Apabila mereka berpuasa, maka saya terikat sampai mereka berbuka kembali. Apabila mereka menunaikan manasik haji, maka saya jadi gila. Apabila mereka membaca Al-Qur'an, maka saya akan meleleh (mencair) seperti timah yang dipanaskan dengan api. Apabila mereka bersedekah maka seakan-akan orang yang bersedekah tersebut mengambil kapak lalu memotong saya menjadi dua," jawab iblis.

"Mengapa demikian wahai Abu Murrah (julukan iblis)?" tanya Rasulullah SAW.
"Sebab dalam sedekah ada empat perkara yang perlu diperhatikan; Dengan sedekah itu, Allah SWT akan menurunkan keberkahan dalam hartanya, menjadikan ia disenangi dikalangan mahluk-Nya, dengan sedekah itu pula Allah SWT akan menjadikan suatu penghalang antara neraka dengannya dan akan menghindarkan segala bencana dan penyakit," tutur iblis menjelaskan.

"Lalu bagaimana pendapatmu tentang Abu Bakar?" tanya Rasulullah SAW.
"Ia sewaktu Jahiliyyah saja tidak pernah taat kepadaku, apalagi sewaktu dalam Islam", tutur iblis.

"Bagaimana dengan Umar bin Khaththab?" tanya Rasulullah SAW.
"Demi Allah SWT, setiap kali saya bertemu dengannya, mesti akan lari darinya," jawab iblis.

"Bagaimana dengan Utsman?" tanya Rasulullah SAW.
"Saya merasa malu terhadap orang yang para malaikat saja malu kepadanya", jawab iblis.

"Lalu bagaimana dengan Ali bin Abi Thalib?" tanya Rasulullah SAW.
"Andaikan saya bisa selamat darinya dan tidak pernah bertemu dengannya, ia meninggalkanku dan saya pun meninggalkannya. Akan tetapi ia tidak pernah melakukan hal itu sama sekali" tutur iblis.

"Segala puji bagi Allah SWT yang telah menjadikan ummatku bahagia dan mencelakakanmu sampai pada waktu yang ditentukan", tutur Rasulullah SAW.


 "Tidak dan tidak mungkin, dimana ummatmu bisa bahagia sementara saya senantiasa hidup dan tidak mati sampai pada waktu yang telah ditentukan. Lalu bagaimana engkau bisa bahagia terhadap ummtmu, sementara saya bisa masuk kepada mereka melalui aliran darah dan daging, sedangkan mereka tidak melihatku. Demi Tuhan yang telah menciptakanku dan telah menunda kematianku sampai pada hari mereka dibangkitkan kembali (Kiamat), sungguh saya akan menyesatkan mereka seluruhnya, baik yang bodoh maupun yang alim, yang awam maupun yang bisa membaca Al-Qur'an, yang nakal maupun yang rajin beribadah, kecuali hamba-hamba Allah SWT yang mukhlis (murni)," tutur iblis.

"Siapa menurut engkau hamba-hamba Allah SWT yang mukhlis itu?" Tanya Rasulullah SAW.

Iblis menjawab dengan panjang lebar, "Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa orang yang masih suka dirham dan dinar (harta) adalah belum bisa murni karena Allah SWT. Apabila saya melihat seseorang sudah tidak menyukai dirham dan dinar, serta tidak suka dipuji, maka saya tahu bahwa ia adalah orang yang mukhlis karena Allah, lalu saya tinggalkan. Sesungguhnya seorang hamba selagi masih suka harta dan pujian, sedangkan hatinya selalu bergantung pada kesenangan-kesenangan duniawi, maka ia akan lebih taat kepadaku daripada orang-orang yang telah saya jelaskan kepadamu. 


 Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa cinta harta itu termasuk dosa yang paling besar? Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa cinta kedudukan adalah termasuk dosa yang paling besar? Apakah engkau tidak tahu saya memiliki tujuh puluh ribu anak, sedangkan setiap anak dari jumlah tersebut memiliki tujuh puluh ribu setan. Diantara mereka ada yang sudah saya tugaskan untuk menggoda ulama, ada yang saya tugaskan untuk menggoda para pemuda, ada yang saya tugaskan untuk menggoda orang-orang yang sudah tua. Anak-anak muda bagi kami tidak masalah, sedangkan anak-anak kecil lebih mudah kami permainkan sekehendak saya. Diantara mereka juga ada yang saya tugaskan untuk menggoda orang-orang yang tekun beribadah, dan ada juga yang saya tugaskan untuk menggoda orang-orang zuhud. Mereka keluar-masuk dari kondisi ke kondisi lain, dari satu pintu ke pintu lain, sehingga mereka berhasil dengan menggunakan cara apapun. Saya ambil dari mereka nilai keikhlasan dalam hatinya, sehingga mereka beribadah kepada Allah dengan tidak ikhlas, sementara mereka tidak merasakan hal itu.

Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa Barshish seorang rahib (pendeta) yang berbuat ikhlas karena Allah selama tujuh puluh tahun, sehingga dengan doanya ia sanggup menyelamatkan orang-orang yang sakit. Akan tetapi saya tidak berhenti menggodanya sehingga ia sempat berbuat zina dengan seorang perempuan, membunuh orang dan mati dalam kondisi kafir? Inilah yang disebutkan oleh Allah SWT dalam kitab-Nya dengan firman-Nya: "(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia : 'Kafirlah kamu', maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata, 'sesungguhnya aku cuci tangan darimu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan Semesta Alam". (QS.Al-Hasyr:16).

Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa kebohongan itu dari saya, saya adalah yang berbohong pertama kali. Orang yang berbohong adalah temanku. Barangsiapa bersumpah atas nama Allah dengan berbohong maka ia adalah kekasihku.

Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa saya pernah bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan atas nama Allah, "Bahwa saya akan memberi nasihat kepada kalian berdua'. Maka sumpah bohong itu menyenangkan hatiku. Sedangkan menggunjing dan mengadu domba adalah buah santapan dan kesukaanku. Kesaksian dusta adalah penyejuk mataku dan kesenanganku. Barangsiapa bersumpah dengan menceraikan istrinya (talak) maka hampir tidak akan bisa selamat, sekalipun hanya sekali. Andaikan itu benar, yang karenanya orang membiasakan lidahnya mengucapkan kata-kata tersebut, istrinya akan menjadi haram. Kemudian dari pasangan tersebut menghasilkan keturunan sampai hari Kiamat nanti yang semuanya hasil dari anak-anak zina. Sehingga seluruhnya masuk neraka hanya gara-gara satu ucapan.


Kisah Iblis bertemu Rasulullah SAW (1)



Diriwayatkan dari Mu'adz bin Jabal r.a., dari Ibnu Abbas r.a. yang berkisah :

Kami bersama Rasulullah SAW dirumah salah seorang sahabat anshar, dimana saat itu kami ditengah-tengah jamaah. Lalu ada suara orang memanggil dari luar, "Wahai para penghuni rumah, apakah kalian mengizinkanku masuk, sementara kalian butuh kepadaku".

Rasulullah SAW bertanya kepada para jamaah, "Apakah kalian tahu, siapa yang memanggil dari luar itu ?". Mereka menjawab, "Tentu Alllah SWT dan Rasul-Nya lebih tahu".

Lalu Rasulullah SAW menjelaskan, "ini adalah iblis yang terkutuk -semoga Allah senantiasa melaknatnya".

Kemudian Umar r.a. meminta izin kepada Rasulullah sembari berkata, "YA Rasulullah, apakah engkau mengizinkanku untuk membunuhnya?". Beliau Nabi SAW menjawab, "bersabarlah wahai Umar, apakah engkau tidak tahu bahwa ia termasuk mahluk yang tertunda kematiannya sampai batas waktu yang telah diketahui (hari Kiamat)? Akan tetapi sekarang silahkan kalian membukakan pintu untuknya. Sebab ia diperintahkan untuk datang kesini, maka pahamilah apa yang diucapkan dan dengarkan apa yang bakal ia ceritakan kepada kalian."

Ibnu Abbas berkata : Kemudian dibukakan pintu, lalu ia masuk di tengah-tengah kami. Ternyata ia berupa orang yang sudah tua bangka dan buta sebelah mata. Ia berjenggot sebanyak tujuh helai rambut yang panjangnya seperti rambut kuda. Kedua kelopak matanya terbelah keatas tidak ke samping. Sedangkan kepalanya seperti gajah yang sangat besar, gigi taringnya memanjang keluar seperti babi. Sementara kedua bibirnya seperti bibir kerbau.

Ia datang sambil memberi salam. "Assalamu'alaika ya Muhammad, Assalamu'alaikum ya jamaa'atal-muslimim. " kata iblis.

Nabi SAW menjawab, "Assalamu lillah ya la'iin (Keselamatan hanya milik Allah wahai mahluk yang terkutuk). Saya mendengar engkau punya keperluan kepada kami. Apa keperluan tersebut wahai iblis?".

"Wahai Muhammad, saya datang kesini bukan karena kemauanku sendiri, tapi saya datang kesini karena terpaksa", tutur iblis.

"Apa yang membuatmu terpaksa harus datang kesini wahai mahluk terkutuk?" tanya Rasulullah SAW.

Iblis menjawab, "Telah datang kepadaku seorang malaikat yang diutus oleh Tuhan Yang Maha Agung, dimana utusan itu berkata kepadaku, 'Sesungguhnya Allah SWT memerintahmu untuk datang kepada Muhammad SAW sementara engkau adalah mahluk yang rendah dan hina. Engkau harus memberi tahu kepadanya, bagaimana engkau menggoda dan merekayasa anak-cucu Adam AS, bagaimana engkau membujuk dan merayu mereka. Lalu engkau harus menjawab segala apa yang ditanyakan Muhammad SAW dengan jujur. Maka demi Kebesaran dan Keagungan Allah SWT, jika engkau menjawab dengan bohong, sekalipun hanya sekali, sungguh engkau akan Allah SWT jadikan debu yang bakal dihempaskan oleh angin kencang, dan musuh-musuhmu akan merasa senang'.

Wahai Muhammad, maka sekarang saya datang kepadamu sebagaimana yang diperintahkan kepadaku. Maka tanyakan apa saja yang engkau inginkan. Kalau sampai saya tidak menjawab dengan jujur, maka musuh-musuhku akan merasa senang atas musibah yang bakal saya terima. Sementara tidak ada beban yang lebih berat bagiku daripada bersenangnya musuh-musuhku atas musibah yang menimpa diriku".

woensdag 2 november 2011

Cerita tentang sebuah kelahiran...

Dear all, 
ini sebuah tulisan yang (ternyataaa) belum sempat diposting...dan setelah sekian bulan baru ditemukan...hehe. I just want to share...^^ enjoy it!


----

Suasana hari ini, sedari pagi mendung...gerimis datang dan pergi. Matahari agak malu-malu memancarkan cahayanya. hmm, jadi semakin sendu...
Dalam kesenduan kulempar pandangan ke luar jendela...
ntah kenapa aku tersenyum...
teringat akan sebuah kisah yang indah...

Alkisah ada sebuah keluarga yang tinggal di kota dingin (yang sekarang, sudah tidak dingin lagi >.<) atau julukan lainnya adalah kota bunga (yang sekarang, "kota ruko" karena jumlah ruko-nya lebih banyak dibanding taman bunganya..huhu). Mereka berempat, ibu-bapak-2 anak, tinggal bersama keluarga besar. Mereka hidup rukun, bahagia, damai dan sentosa...(wih, kumplit yach...hehe).

Ramadhan 1403 H.

Ramadhan kali ini sungguh istimewa, khususnya bagi keluarga kecil ini. Ada apa gerangan? Oo... ternyata si ibu diperkirakan akan melahirkan buah hatinya pada bulan ini. Subhanalloh.... Meski ini bukan kehamilan yang pertama, si ibu sudah memiliki 2 putra yang ganteng-ganteng dan lucu, beliau tetap excited menyambutnya. Tentunya, beliau berharap semuanya berjalan lancar. Oh ya, si ibu ini sosok yang kuat loh. Di saat kehamilan yang mulai menginjak usia sembilan bulan, dengan perut yang semakin membuncit, beliau tetap menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasa. Mengajar. Beliau pun tetap menjalankan ibadah puasa Ramadhan...subhanalloh. Mungkin dalam batin si ibu, ia berpikir, ibadah yang ia kerjakan bisa men-stimulus- si anak yang masih kerasan tinggal di rahimnya. Stimulus untuk apa? Tentu saja, untuk menjadi ahli ibadah nantinya...amien

Robbi, kabulkan do’a ibunda yang sholehah ini…
jadikan bayi mungilnya kelak menjadi hamba-Mu yang sholehah.

Mendekati hari kelahiran si kecil, yang diprediksi oleh bidan (Ibu lebih sreg ke bidan. Bukan karena tidak percaya dokter, tetapi lebih karena pertimbangan biaya:-)) tinggal beberapa hari lagi, beliau pun mulai bersiap kalau-kalau perutnya terasa mules alias ada kontraksi. Si bapak membantu menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa jika sewaktu-waktu istri tercinta mengalami kontraksi. Si (calon) kakak pun tampak senang karena bocah yang masih berumur 4 dan 2 tahun itu akan punya "mainan" baru. Wah, bahaya nih! tp, ya... namanya juga anak-anak...tinggal diawasi aja nanti.

Hari demi hari berlalu...Ramadhan pun hampir meninggalkannya. Di 10 hari terakhir, dimana sebagian orang meramaikan swalayan, keluarga ini tetap tak lupa untuk meramaikan masjid. Apalagi di daerah itu, ada kebiasaan malam "likuran" (dalam bahasa Jawa,  likuran artinya 20-an). Dimana pada malam-malam ganjil, -malam ke-21, malam ke-23, dan seterusnya-, mereka melaksanakan sholat malam berjama’ah di masjid. Setelah sholat tarawih, mereka tidak langsung menutup dengan sholat witir, karena sholat witir ini akan dilaksanakan tengah malam nanti. Orang tua dan remaja, laki-laki dan perempuan, berbondong-bondong ke masjid di tengah malam. Untuk apa? Tak lain adalah menjemput lailatul qadar. Dalam keyakinan umat Islam, orang yang mendapatkannya akan dilipatgandakan pahala ibadahnya di malam itu, seperti ia telah melakukannya 1000 bulan atau 83 tahun. Subhanalloh…siapa yang tidak ingin? Yang usianya sampai 83 tahun saja, belum tentu seumur hidupnya ia gunakan untuk full ibadah.

Suatu hari, si ibu mulai terasa mules. Dengan sigap si bapak seera membawa istri tercintanya ke rumah bu bidan, yang kebetulan tidak terlalu jauh. Tentunya tak lupa ia bawa juga tas yang berisi perlengkapan ibu dan (calon) bayi. Alhamdulillah, akhirnya sampai di rumah bu bidan. Nah…setelah ditunggu-tunggu selama beberapa jam, ternyata tidak ada kontraksi lagi. Ya Alloh, si bayi ternyata masih senang tinggal di dalem perut ibu. Bu Bidan pun mempersilakan pasangan suami istri ini untuk pulang. 
Setelah sesampainya di rumah kembali, beberapa sanak saudara menyarankan agar si ibu minum air degan (air kelapa hijau) agar persalinannya lancar. Lagi-lagi…si bapak mengambil peran. Beliau segera mengambil sepeda motor honda merah kesayangannya untuk mencari air kelapa. 

Belum lama si bapak pergi, si ibu mules-mules lagi. Kali ini, rasanya lebih mules. Keluarga pun berinisiatif memanggil seorang dukun bayi yang tinggal tak jauh dari rumahnya. Mbah Yah, namanya. Saat mbah dukun bayi ini datang, terdengarlah suara adzan dari corong masjid. Allohu akbar…allohu akbar…Allohumma bariklana fiima rozaktana wa qina a’dzaban naar. Mereka, termasuk si ibu, pun sejenak menikmati ta’jil kolak pisang. Baru 2-3 sendok kolak, perut si ibu kembali mules. Dan alhamdulillah…oeek..oeek…oeeek... lahirlah seorang bayi perempuan yang sehat. Si bapak yang baru datang, langsung sujud syukur begitu mendengar suara tangisan bayi dari kamarnya. Matanya berkaca-kaca…antara haru dan bahagia. 

sumber foto :  http://www.fulltimemuslim.com

Si bayi itu kemudian diberi nama Elly Romdliyana...^_^

Robbana hablana min azwajina wadzurriyatina qurrota a'yun waj'alna lil muttaqiina imaama.

A'udzubikalimatillahittaammaati min syarri maa kholaq.

----

Teriring salam rindu untuk Ummi dan almarhum Abah. Robbighfirlii waliwalidayya warhamhuma kamaa robbayaani shoghiro. I miss u my parents...may Allah always bless u wherever you are. amien

9 Juli 1983-9 Juli 2011
27 Ramadhan 1403 H - Sya'ban 1432 H