donderdag 7 februari 2013

Tipu Daya Syaitan

sumber gambar : dari sini


Bismillah...

Dalam Al Qur'an surat Thaha ayat 120-121 dikisahkan bagaimana syaitan berhasil membujuk nabi Adam as dan hawa. Allah berfirman, "Setelah itu maka Syaitan membisikkan (hasutan) kepadanya, dengan berkata: "Wahai Adam, maukah, aku tunjukkan kepadamu pohon yang menyebabkan hidup selama-lamanya, dan kekuasaan yang tidak akan binasa ? "Kemudian mereka berdua memakan dari pohon itu, lalu tampaklah oleh keduanya aurat mereka, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) Syurga dan telah durhakalah Adam kepada Tuhannya, dan sesatlah ia." Padahal di beberapa ayat sebelumnya (ayat 117) Allah telah mewanti-wanti nabi Adam, " Maka Kami berkata: "Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka."

Subhanallloh... betapa Al qur'an memang pedoman hidup bagi umat manusia yang bisa kita jadikan sebagai pembelajaran atas segala yang terjadi, termasuk tentang tipu daya syetan. 

Manusia dilahirkan dalam keasaan suci. Demikianlah fitrahnya... namun seiring berjalannya waktu ujian datang menghadang. Tak jarang yang di luar fitrahnya itulah yang dijadikan pegangan. naudzubillah.
Dalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah SAW bersabda, Allah SWT berfirman, "Sungguh Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan hanif (condong kepada kebaikan). hanya saja mereka didatangi setan-setan yang memalingkan manusia dari agama mereka, dan mengharamkan apa yang Aku halalkan." (HR Muslim)

Mengapa setan terus cari "teman"? tak lain dan tak bukan karena itulah sumpahnya di hadapan Allah, bahwa ia akan menjerumuskan manusia. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Sa'id, bahwa rasulullah bersabda, "Sungguh setan berkata, 'Demi keagungan-Mu, wahai Tuhan, aku akan selalu menggoda hamba-hamba-Mu selama nyawa mereka masih ada dalam jasad mereka.' Mendengar itu, Allah berfirman, 'Demi keagungan dan keluhuran-Ku, Aku akan mengampuni mereka selama mereka memohon ampun kepada-Ku".

Ada sebuah pepatah yang menyebutkan, "manusia itu tempat salah dan lupa". Artinya, kita memang punya kelemahan dan dengan kelemahan itu kita berpotensi untuk berbuat salah. Tidak ada orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, kecuali orang yang telah di-ma'sum-kan oleh Allah, seperti Rasulullah SAW. Sebenernya wajar memang manusia itu melakukan kesalahan. Akan tetapi, di sisi lain Allah juga sudah memberikan akal dan hati, yang bisa digunakan untuk membedakan haq-bathil, yang bisa digunakan untuk merenungkan hikmah, menyadari kesalahan, dan sebaginya. Nah, jadi bukanlah orang yang baik itu yang tidak pernah bersalah (karena mustahil setiap orang tidak pernah melakukan kesalahan, kecuali yang Ia sucikan), akan tetapi mereka yang bersalah kemudian bertaubatlah yang menjadikan dirinya baik dihadapan Allah. Hal ini senada dengan
Manusia disebut insan (manusia), karena sifat nisyan (pelupanya)
Hati disebut qalb (hati), karena sifat taqallub (mudah berubah)


Sabda Rasulullah Saw, “Setiap anak Adam (manusia) berbuat kesalahan, dan sebaik-baiknya orang yang bersalah adalah yang bertobat.” (HR at Tirmidzi). Dari sini kita seharusnya sadar bahwa begitu Maha Pengampun-nya Allah. Allah itu sangat dekat dengan kita walaupun kita dilumuri dengan berbagai macam dosa. Kita diperintahkan untuk mendekat kepada-Nya dengan mengakui setiap dosa dan kesalahan kita, bukan dengan menjauhi-Nya dengan menambah dosa, sebagaimana ajaran Rasulullah dalam berdoa yang masyhur dengan sayyidul istighfar, yang bunyinya : Allahumma anta robbi laa ilaha illa anta, kholaqtani wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu, abuu-u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu-u bi dzanbi, faghfirliy fainnahu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta (Ya Allah! Engkau adalah Rabbku, tidak ada Rabb yang berhak disembah kecuali Engkau. Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.” (HR Bukhari)).


Allah memerintahkan kita untuk bertaubat yang sesungguhnya. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya)..." (QS At Tahrim 6). Para ulama menyebutkan bahwa ciri-ciri dari taubat nasuha adalah bersungguh-sungguh menyesali perbuatan (buruk) nya, mohon ampun kepada Allah, berjanji untuk tidak mengulanginya kembali, dan memperbanyak amal sholeh. Namun jika kesalahannya itu berkaitan dengan sesama manusia, ia juga harus menunaikan hak orang yang didzolimi atau meminta keridloannya.


Imam Ahmad meriwayatkan dari Mu'adz ibn Jabal, bahwa Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya, setan adalah serigala bagi manusia. Ia laksana serigala bagi seekor kambing. Ia akan mengambil kambing yang menyingkir dari teman-temannya. Maka janganlah kalian menyendiri. kalian harus tetap berjama'ah, bersama kelompok orang, dan di masjid." (Tafsir Ibnu Katsir) dari hadits tersebut, dapat diambil hikmah tentang fadhilah/keutamaan berjamaah dalam Islam. Betapa dalam Islam, Allah memberikan penilaian yang berlipat atas sebuah amalan yang dilakukan secara berjama'ah, sholat misalnya. Nabi Muhammad Saw bersabda, “Shalat berjamaah mengungguli shalat sendirian  sejauh dua puluh tujuh tingkatan.” (HR Bukhari). Selain meraih keutamaan/pahala dari Allah, tentunya kebersamaan ini berarti pula pentingnya bersama-sama dalam kebaikan. Dalam konteks tipu daya setan ini, dengan berada dalam jama'ah Islam, in syaa Allah kita akan bisa saling menguatkan, saling menasehati dan saling menolong. Tak lantas ketika kita futur, kita terhempas begitu saja. karena kita masih memiliki saudara-saudara yang peduli. Buat kita yang berada jauh dari komunitas Islam, katakanlah tinggal di Belgia, hendaknya kita pandai memilih komunitas. Saya yakin dari sekian banyak orang yang ada di sini, ada komunitas-komunitas yang baik, tinggal kita mau mencari dan menjadi bagian darinya, atau tidak.

Mengapa kita perlu mencari komunitas yang "baik"? Sekali lagi adalah karena kita menyadari akan kelemahan diri kita, padahal syetan terkenal pantang menyerah dalam merayu kita. Nah ketika kita sendirian, kemudian tidak juga berupaya untuk menjaga hubungan baik dengan Allah, mulai terbiasa dengan kemaksiatan, Naudzubillahi mindzalik... kita akan dengan mudah mengikuti tipu daya setan, bahkan mungkin dengan suka rela dan berbangga diri mengikutinya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Sibrah dari Abu Al Faqih, dia menuturkan, bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya, setan menghadang anak keturunan Adam pada jalan-jalan mereka. Dia menghadang pada jalan islam dan berkata, 'Apakah engkau akan masuk Islam, lalu meninggalkan agamamu dan agama nenek moyangmu?'Rasulullah saw bersabda, "Kemudian dia mengingkari perkataan setan tersebut dan masuk Islam. Setan tersebut kembali menghadangnya pada jalan hijrah dan berkata, "Apakah engkau akan berhijrah dan meninggalkan bumi dan segala sesuatu yang ada di atasmu. Orang yang berhijrah itu laksana seekor kuda yang menempuh perjalanan yang panjang. Kemudian orang tersebut mengingkari perkataan setan tersebut dan berhijrah. Setelah itu, setan tersebut menghadang jalan jihad, yaitu jihad dengan jiwa dan harta. Setan berkata, "Engkau akan berjihad kemudian engkau akan terbunuh. Istrimu akan dinikahi (orang lain) dan hartamu akan dibagi-bagi. Rasulullah saw bersabda, "Orang tersebut mengingkari (perkataan setan tersebut) dan pergi berjihad. Kemudian Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa mengerjakan semua itu, kemudian dia meninggal dunia, maka menjadi hak bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam surga. Jika dia terbunuh, maka menjadi kewajiban bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam surga. Dan jika tenggelam, maka menjadi hak bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam surga. Dan jika seekor binatang mematahkan lehernya, maka menjadi hak bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam surga." (Tafsir Ibnu Katsir)

A'udzubillahis samii'il 'aliimi minasy syaithonirrojiim...
(aku berlindung kepada Allah yang maha Mendengar lagi maha Mengetahui dari godaan syetan yang terkutuk)
A 'udzubikalimatillahit taammaati min syarri ma kholaq...
(aku berlindung pada kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya)

wallohu a'lam bish showab

sumber : Tafsir Ibnu Katsir, al ma'tsurat, dan Mushaf Al Burhan. 

Do'a-Do'a dalam Al Qur'an

sumber gambar : dari sini


♥♥ Bismilahirrahmanirrahiim ♥♥

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan,

وَيَنْبَغِي لِلْخَلْقِ أَنْ يَدْعُوا بِالْأَدْعِيَةِ الشَّرْعِيَّةِ الَّتِي جَاءَ بِهَا الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ فَإِنَّ ذَلِكَ لَا رَيْبَ فِي فَضْلِهِ وَحُسْنِهِ وَأَنَّهُ الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيمُ صِرَاطُ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا .

“Sudah sepatutnya setiap hamba berdo’a dengan do’a yang syar’i yang disebutkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Karena do’a yang berasal dari keduanya tidak diragukan lagi keutamaannya dan kebaikannya. Do’a yang ada pada keduanya termasuk doa’ para Nabi, para shidiqin, para syuhada’, orang-orang sholih yang menjadi teman terbaik yang tentu berada di jalan yang lurus. ”(Majmu’ Al Fatawa, 1/346.)

Berikut ini do'a-do'a yang tercantum atau diabadikan dalam Al Qur'an...


Do’a Memohon Petunjuk
Surat Al-Fatihah  6-7Ya Allah, Tunjukilah Kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Do’a Nabi Ibrahim as untuk Kemuliaan Mekah
Surat Al-Baqarah  126
Ya Allah, Jadikanlah (negeri Mekah) ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian.

Do’a Nabi Ibrahim dan Ismail asKetika Membangun Pondasi Baitullah
Surat Al-Baqarah ; 127-128
Ya Allah,Kami terimalah daripada Kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
Ya Allah, Jadikanlah Kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu Kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada Kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji Kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Do’a Kebaikan Dunia dan Akhirat
Surat Al-Baqarah ; 201
Ya Allah, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka.

Do’a Pasukan Thalut ‘Ketika Melihar Musuh’/ Do'a ketika Menghadapi Musuh
Surat Al-Baqarah ; 250
Ya Allah, tuangkanlah kesabaran atas diri Kami, dan kokohkanlah pendirian Kami dan tolonglah Kami terhadap orang-orang kafir.

Do’a Orang Mu’min / Do'a Keselamatan
Surat Al-Baqarah ; 285-286
Ya Allah, Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.
Ya Allah, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah.
Ya Allah, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Ya Allah, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir.

Do’a Minta Ketetapan Hati
Al-Qur’an Surat Ali ‘Imran ; 8-9
Ya Allah, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)
Ya Allah, Sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya.

... in syaa Allah akan terus dilengkapi.

wallohu a'lam bish showab

woensdag 30 januari 2013

Kabar itu...

Kudengar kabar itu
serasa ada sesak di dada
serasa ada penolakan di jiwa
sampai bulir-bulir itu menyeruak dari ujung mata

Ya Allah
Mungkinkah?
Benarkah?

Kami mungkin memang bukan barisan malaikat
juga bukan barisan para nabi
yang memang Ia jaga dari kesalahan

Kami hanyalah barisan manusia biasa
yang mungkin saja alpa
namun di sini kami diajarkan untuk selalu belajar pada keta'atan malaikat
Kami juga diajarkan untuk belajar dari keteguhan dan kesabaran para nabi
Kami pun diajarkan untuk selalu mengedepankan baik sangka padaNya dan pada saudara

Ya Allah
Lindungi kami dari prasangka
Lindungi kami dari murka-Mu yang sesungguhnya
Ampuni segala khilaf kami
Bantu kami tuk perbaiki diri
Bimbing dan kuatkan kami
agar kami dapat terus beramal, beramal dan beramal
karena kami di sini bersama dalam cinta
cinta yang mengharap ridlo-Mu saja

Hasbunallohu wani'mal wakiil... 
ni'mal maula wa ni'man nasiir...
Allohumma arinal haqqo haqqo warzuqnat tiba'aa wa arinal batila batila warzuqnaj tinabah,
birohmatika yaa Arhamar roohimiin. 

#Refleksi atas sebuah kejadian yang mengejutkan. Namun membuatku semakin yakin bahwa tak pernah kusesali pertemuanku (dan perjalananku hingga kini) dengan mereka, karena kebersamaan ini sejatinya hanya karena cinta yang mengharap ridlo-Nya, bukan cinta buta. Semoga Allah menjadikan diri kita golongan mukminin, muhlisin dan muttaqin.#

maandag 28 januari 2013

Perayaan Maulid Nabi, Bolehkah?





sumber gambar dari sini

Bulan Rabiul Awal 1433 H...

Memasuki bulan Rabiul awal, memori kita langsung ingat akan suatu kejadian agung, yaitu kelahiran manusia terbaik dan paling mulia, Muhammad SAW. Betapa tidak? setiap tahunnya di tanah air kita pasti disibukkan dengan perayaan Maulid Nabi. Di kampung-kampung, di sekolah-sekolah, sampai setiap tanggal 12 Rabiul Awal pun sekolah diliburkan. Mulai ada yang menggelar pengajian umum, pembacaan sholawat, aneka perlombaan dan saling berkirim makanan dengan tetangga. Meriaaah sekali!

Nah, kemudian muncul pertanyaan, bolehkan merayakan Maulid nabi ini? Tanpa bermaksud menyuarakan riak-riak perbedaan yang ada, saya mencoba berbagi.

Menurut siroh yang pernah saya baca, Perayaan Maulid Nabi baru dilaksanakan oleh kelompok Fathimiyyin, pendukung Fathimah binti Muhammad, di Mesir. Salah satu kelompok berfaham syiah ini tidak hanya merayakan hari kelahiran Nabi saja, tetapi juga ahlul bait yang lain. Mereka merayakan dengan pesta dan berbagi makanan. Tidak itu saja, mereka juga sambil menyebarkan ajaran syi'ah.

Bagaimana dengan maulid di zaman Rasulullah SAW, para sahabat, dan tabi'in tidak pernah melaksanakan Maulid Nabi. Apakah Nabi tidak mensyukuri hari kelahirannya? Untuk menjawabnya, kita bisa melihat hadits yang diriwayatkan dari Abu Qotadah r.a, sesungguhnya Rosulululloh SAW ditanya tentang puasa Senin. Maka beliau menjawab : "Hari Senin adalah hari lahirku, hari aku mulai diutus atau hari mulai diturunkannya wahyu". (HR Muslim no.1162). Shoum sunnah Senin ini-lah yang ternyata merupakan bentuk syukur Rasulullah atas kelahirannya dan diangkatnya beliau SAW menjadi Nabi.

Hal inilah yang membuat sebagian ulama, berpendapat bahwa kita TIDAK BOLEH melaksanakan peringatan Maulid Nabi. Mereka menganggap bahwa perayaan Maulid Nabi tergolong bid'ah karena tidak ada di zaman Rasulullah. Selain itu salah seorang ulama Fiqh, Abdul Karim Al Hamdan melihat bahwa praktek perayaan oleh kaum Fathimiyyin itu cenderung berbau sufi, kultus individu, dan berlebihan, yang tidak sesuai syariat Islam.

Ada pula ulama yang memberikan pandangan agak berbeda, di antaranya Dr M Alawi Al Maliki Al Huseini. Beliau membolehkan peringatan Maulid Nabi dengan kegiatan yang bertujuan mempelajari siroh nabawiyah, bersholawat, berbagi kebahagiaan dengan sesama muslim. Asalkan, pelaksanaannya tidak dikhususkan di malam tertentu (misal, harus malam 12 Rabiul awal). Begitu pula pendapat dari beberapa ulama' Al Azhar, yang ikut membolehkan asala tidak mengandung maksiat atau lebih banyak mudhorotnya. Jika terjadi yang demikian, maka sebaiknya menggunakan kaidah "mencegah kerusakan lebih didahulukan dari pada meraih maslahat".

Nah, jelaaaas kan?

Menurut saya sendiri, saya berharap bahwa peringatan Maulid dilaksanakan sebagai bentuk keta'atan pada Allah dan rasul-Nya, yang tentunya tiada mungkin bercampur antara keta'atan dengan kemaksiatan. Kita upayakan dengan maulid nabi, kita bisa lebih mengenal lagi sosok beliau SAW. Dan setelah mengenal, tentunya kita tanamkan kecintaan dalam diri kita. Dan kemudian, yang tidak kalah pentingnya adalah wujudkan kecintaan itu!

Sangat disayangkan juga, jika kita sudah puluhan kali merayakan Maulid Nabi dan menghabiskan uang yang tidak sedikit misalnya, akan tetapi tak menjadikan kecintaan kita bertambah pada rasulullah SAW. Hanya sekedar formalitas peringatan hari besar Islam. Sayang... jika kita, umat Islam, ini masih begini-begini saja... sementara ada sosok teladan yang sudah ada di depan mata. Bagaimana mungkin kita mau meneladaninya, kalau kita belum mengenalnya?

Imani...kenali...cintai...dan teladani!

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
[QS. Al-Ahzaab: 21]

wallohu a'lam bish showab

zondag 20 januari 2013

Bertanya, Apa Salahnya?

sumber gambar dari : sini


Beberapa waktu yang lalu, seseorang bercerita bahwa ia akan "menyepi" dulu untuk beberapa waktu. Dia adalah sosok yang selama ini saya kenal supel dan luas pergaulannya. Ada apa gerangan?? Hal ini tidak biasa terjadi padanya maka saya pun menanyakan alasannya. "Males aah, habis ditanyain terus tentang itu", jawabnya enteng. Dia yang memang cukup dekat dengan saya dan belakangan ini memang sedang "sibuk" menghadapi berondongan pertanyaan seputar jodoh yang tak kunjung didapatkannya. Saya pun hanya bisa ber-oo-oo saja, mencoba memahami perasaannya, yang ditanya akan suatu hal yang menurutnya merupakan rahasia Tuhan, seperti halnya tentang hidup, mati, anak, dan rizki.

Lain lagi ceritanya dengan rekan yang lain. Ia adalah seorang ibu yang salah satu putranya meninggal dunia beberapa waktu yang lalu. Saat kejadian itu, dia bercerita di antara pelayat yang datang ada yang menanyakan penyebab kematiannya, apa tindakan yang dia lakukan dan sebagainya. Dengan hati yang berat, karena mengingat suatu kejadian yang begitu menyedihkan, dia pun mencoba menceritakan kronologisnya. Ada pelayat yang terharu sampai meneteskan air mata, ada yang hanya terdiam, ada yang mencoba memeluknya saja tanpa berkata apa-apa. namun ada juga yang kemudian berkata, "oo...kasihan ya si kecil, kenapa ga dibawa ke rumah sakit saja? mengapa koq dibawa ke puskesmas?". Ada juga yang berkomentar, " aduuh...sayang ya, coba kalo waktu itu kalian lebih tanggap, pasti si kecil terselamatkan.". dan komentar-komentar lain yang bernada sama. Please deh! Tidak bisakah kita berempati sedikiiit saja?

Dan mungkin masih banyak cerita-cerita serupa.

So, dari kedua cerita tersebut, saya mencoba mengambil hikmah. Mungkin memang tidak ada salahnya BERTANYA yang bersumber dari rasa INGIN TAHU ini. Tapiiii.... tentulah ada hal-hal yang harus kita perhatikan.

1. Menggunakan bahasa dan cara yang baik, jelas dan sopan.
2. Memperhatikan situasi dan kondisi.
3. Memperhatikan karakter orang yang ditanya.
4. Bertanya akan sesuatu yang "bermanfaat" / ada gunanya.
5. Tidak bertanya untuk hal-hal yang sensitif --> Nah, hal inilah yang terkadang kurang diperhatikan. Saking besarnya rasa ingin tahunya, hal ini menjadi dinomorsekiankan. Apalagi kalau niatnya sekedar iseng, basa-basi atau malah "menghakimi", bukan benar-benar ingin memberi solusi. Pasti jadinya malah menimbulkan "luka" bagi orang yang ditanya.

So, mulai sekarang kita harus berhati-hati dalam bertanya. Jangan sampai pertanyaan kita menyakiti perasaan orang lain. Mencoba terus untuk berempati pada orang lain, dengan membayangkan jika kita yang ditanya, dan seterusnya. **mengingatkan diri sendiri**

Semoga ke depannya tidak ada orang yang sakit hati karena ucapan kita. Ingat pesan Rasul SAW, "Falyaqul khoiron au liyasmut", yang artinya : Berkatalah yang baik atau diam.

Wallohu a'lam bish showab

donderdag 17 januari 2013

Mulutmu Harimaumu

Kemarin saya sempat mengecek akun pribadi saya di sebuah situs jejaring sosial. wah... ada berita terbaru ternyata dari tanah air. Saya pun langsung googling...nah setelah baca beritanya di sini dan juga di sini, saya jadi mulai nyambung dengan status teman-teman yang sedang keseeel...

Hmm, kalau boleh berpendapat sih... saya juga prihatin melihat hal ini. Terlepas beliau adalah seorang manusia biasa yang mungkin saja melakukan kekhilafan. Akan tetapi sebagai seorang yang berpendidikan, bahkan sedang dicalonkan untuk menjadi hakim di sebuah institusi yang terhormat, sudah selayaknya beliau lebih berhati-hati dalam bertindak, termasuk berbicara. Meskipun katanya, beliau mengucap demikian itu bermaksud bercanda. **emang ga ada bahan becandaan yang lain apa ya??**

"Mulutmu Harimaumu"
Berdasarkan Wikipedia, peribahasa Mulutmu Harimaumu berarti segala perkataan yang terlanjur kita keluarkan apabila tidak difikirkan dahulu akan dapat merugikan diri sendiri.
Hmmm...tuh kan? gimana coba? Besar juga akibatnya kaaan? misalnya, dalam kasus ini, banyak pihak (baca parpol) yang memutuskan untuk tidak memilih beliau untuk masuk ke tahap berikutnya dalam proses pencalonan hakim ini. Menyesalkah? Ya...sepertinya beliau menyesal, karena saya juga membaca berita bahwa beliau mengajukan permohonan maaf secara terbuka. Saya sendiri sih setuju jika kejadian ini tetap diproses secara hukum. Mengapa? agar bisa menjadi pelajaran bagi yang lain, khususnya para pejabat publik.
nah, agar tidak rugi dua kali, semoga beliau (dan kita semua) bisa mengambil hikmahnya agar tidak asal bicara dan bercanda pada tempatnya.

Saya jadi teringat akan sebuah sabda Rasulullah SAW, "man kana yu’minu billah wal yaumil akhir fal yaqul khairan aw liyashmut." Artinya, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka dia harus berkata baik atau diam.
Masya Allah... Allah men"definisikan" orang yang beriman dengan apa yang ia ucapkan.

Yuk, kita ambil hikmahnya untuk lebih berhati-hati dalam bersikap, berucap, menulis, dan lain sebagainya... *mengingatkan diri saya sendiri, khususnya*
terlebih lagi, bagi para presiden yang diamanahi rakyat, para pemimpin yang diamanahi bawahan, bagi para orang tua yang diamanahi anak-anak, bagi para guru yang diamanahi murid,... mereka --rakyat, bawahan, anak-anak, murid-murid-- butuh keteladanan. Mari memberikan teladan yang baik! karena jika mereka melakukan kebaikan seperti yang Anda contohkan, in syaa Allah Anda pun akan kebagian pahalanya. Namun begitu pula sebaliknya, jika mereka melakukan kemaksiatan/kejahatan seperti yang Anda contohkan, bukan tidak mungkin... Allah pun menilai Anda turut andil di dalamnya.

Yuuuk...semangat untuk terus berbagi kebahagiaan dan menyebarkan kebaikan.

wallohu a'lam bish showab