Baru saja saya membaca status FB seorang sahabat yang membuat saya semakin yakin bahwa inilah hidup...kehidupan dan kematian menjadi rahasia Allah.
Penasaran dengan statusnya? kurang lebih isinya begini (saya ubah dengan bahasa saya yaa... )...
"... Alhamdulillah, telah lahir putri pertama kami....pagi tadi. Tak sabar kuceritakan kabar gembira ini kepada ibunda tercinta. Kurasakan aroma bahagia dari seberang sana, dari suara ibunda tercinta. Sore harinya, tak dinyana kuterima kabar duka. Ibunda tercinta telah berpulang kepada Pencipta-nya. ..."
Ya Allah, senyum manis yang terlukis di bibirku saat membaca status ini di awal pun...sontak berubah menjadi genangan air mata saat membaca kalimat-kalimat terakhirnya. Alhamdulillah wa innalillah....
Hidup mati memang benar-benar ada di tangan-Nya. Semoga kita mengisi hidup ini dengan memperbanyak bekal untuk kehidupan setelah kematian kita..aamiin
teriring do'a tuk sahabatku...semoga Allah kuatkan dan beri kesabaran... semoga putrinda menjadi anak yang tumbuh sehat, cerdas dan sholehah. dan semoga ibunda senantiasa dalam naungan rahmat-Nya. aamiin # peluk erat #
Kehidupan manusia bak roda yang berputar. Ada kalanya di atas dan ada kalanya di bawah. Ada kalanya bersedih dan ada kalanya bergembira. Ada kalanya sukses dan ada kalanya gagal. Semuanya berpasangan..begitulah sunnatullohnya. Akan tetapi, sebagai seorang muslim, kita harus bersyukur. Mengapa? Karena Dia tidak membiarkan kita berjalan sendiri. Dia tidak membiarkan kita meraba-raba dalam kegelapan. Dia tidak membiarkan kita terlena dalam keindahan indera. Yaa... Allah memberikan kita pegangan, yakni Al Qur'an.
Di saat kita di puncak kesuksesan,
Tanpa disadari, kadang kita merasa paling hebat. Merasa paling bisa, tak butuh bantuan siapapun.
Saat lulus ujian, kita merasa karena kita pandai.
Saat diberi penghargaan, kita merasa hebat karena prestasi dan kerja keras kita sendiri.
Saat panen raya kita sukses, kita merasa telah berhasil "menaklukan" alam yang kini mulai tak bersahabat.
Bahkan saat ada orang yang "sadar" setelah kita nasehati, kita merasa bahwa iman kita cukup tinggi dan ilmu kita cukup dalam, serta kita telah mampu "merubah".
naudzubillahi min dzalik...
Renungkanlah firman Allah... Atau
siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air
untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun
yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan
pohon-pohonnya? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan
(sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran). Atau
siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang
menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan
gunung-gunung untuk (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah
antara dua laut? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan
(sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui.
Di saat kita terpuruk,
Tanpa disadari, kadang kita merasa paling hina. Merasa berputus asa dari rahmat-Nya.
Saat gagal ujian, kita merasa karena kita bodoh.
Saat diberi kritikan tajam, hidup kita terasa sudah kiamat. Habis!.
Saat diberikan ujian/musibah, kita sibuk menyalahkan pihak lain dan merasa diperlakukan tidak adil oleh Allah.
naudzubillahi min dzalik...
Renungkanlah firman Allah...Atau
siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila
ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang
menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping
Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya). Atau
siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di dataran dan lautan dan
siapa (pula)kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum
(kedatangan) rahmat-Nya? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)?
Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya). Ya...kita harus membuka mata, telinga dan hati kita Bahwa ada Dzat yang Maha Besar Bahwa ada Dzat yang Maha Mengabulkan Do'a Bahwa ada Dzat yang Maha Mengetahui segalanya, yang nyata dan yang ghaib ada Dzat yang Maha Baik Dia-lah Allah Robbul Izzati...
Atau
siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian
mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepadamu
dari langit dan bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)?.
Katakanlah: "Unjukkanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang
yang benar". Katakanlah:
"Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara
yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan
dibangkitkan.
Maka dari itu, janganlah berlebihan saat menghadapi kebahagiaan dan kesedihan. Ucapkan syukur atas ke-besar-an-Nya. Jangan pernah bosan untuk mohon ampun dan memanjatkan do'a pada-Nya.
Dari Abdurrahman bin Abi Laila dari Shuhaib, ia berkata,
“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukin,
semua urusan baik baginya
dan kebaikan ini tidak dimiliki oleh selain seorang mukmin.
Apabila
mendapat kesenangan ia bersyukur dan itulah yang terbaik untuknya.
Dan
apabila mendapat musibah ia bersabar dan itulah yang terbaik untuknya.”
Kali ini saya tidak akan berkisah tentang Kisah Air Zam-Zam yang mungkin bisa kita temui di buku kisah Nabi Ismail. Bukan juga tentang cerita pengalaman haji, karena memang saya belum pernah menginjakkan kaki di Tanah Suci. Semoga Allah memperkenankan saya dan kita semua untuk menjadi tamu-Nya... aamiin...
Nah, lantas cerita tentang apa? saya ingin sedikit berbagi kebahagiaan saja, bagaimana saya mendapat sebotol Air Zam-Zam ini...
Ceritanya, beberapa waktu yang lalu saya pergi ke sebuah toko yang menjual buku-buku dan CD Islami, aneka perlengkapan muslim. Ini bukanlah pertama kalinya saya datang ke toko ini. Hmm, setelah memilih beberapa barang yang ingin saya beli, saya pun menuju kasir untuk membayar. Alhamdulillah tanpa basa-basi, si penjual ini menyodorkan sebotol air Zam-Zam berukuran 1 lt. Meski dia menyerahkannya dengan bahasa Perancis, saya menangkap bahwa ini hadiah :-) Alhamdulillah...
Baru beberapa menit yang lalu, saat melempar pandangan ke seluruh penjuru isi toko itu, saya sempat terhenti di salah satu sudut toko. Dimana tertata rapi beberapa barang yang biasa dipakai jama'ah haji, seperti gamis dan perlengkapan haji lainnya. Dalam hati, saya sempat berdo'a, "Ya Allah, panggillah hamba dan suami menjadi tamu-Mu..." Mungkin akan meleleh air mata yang mulai menggenangi sudut mata ini, kalau tidak kulihat ada beberapa pengunjung toko yang lain yang berdiri tidak jauh dariku. Hmm..hatiku kembali hanyut...syahdu...
Dan, ketika akan keluar toko...saya mendapatkan sebotol Air Zam-zam. Semoga ini isyarat baik dari-Mu, insya Allah...semoga Kau bukakan jalan...semoga Kau mudahkan...semoga Kau berkahi...
Abah, hari ini kami yang mencintaimu duduk bersama
duduk bersama untuk mendo'akanmu
kembali...suasana kembali haru seperti baru dirundung duka
Meskpun saat ini aku jauh dari tempat kau dikebumikan
aku juga mendo'akanmu Abah...
Semoga sampai do'aku, do'a kami
Semoga Allah melapangkan kuburmu
Semoga Allah memberi kesempatan pada kami untuk berbekal...menyiapkan bekal kematian
----
berikut saya share kembali Note-ku di saat Abah tiada...
Semoga qt semua bisa mengambil hikmahnya...
Nasehat kematian
by Elly Romdliyana on Tuesday, March 1, 2011 at 11:18am ·
Rasululloh saw bersabda :”Cukuplah kematian itu sebagai nasehat”. (HR. Thabrani dan Baihaqi).
28 Februari 2011.
"innalillahi wa inna ilaihi roji'un... Smuga amal ibadah abah diterima ALLAH..." begitu kabar pertama yang kuterima dari kakak iparku. Serasa mimpi...
Langsung saja kutelpon ummi, dan...begitu tahu aku yang menelpon, ummi dengan lembut berkata, "maafin Abah ya, Nduk..". Ya Allah...ummi tegar sekali....
baru 3 hari yang lalu, Abah genap berusia 62 tahun...
Innalillahi wa inna ilaihi roji'un...
ternyata aku tidak sedang bermimpi. Abah telah pergi untuk selama-lamanya...
Masih lekat dalam ingatanku,
Abah yang harus begadang untuk membuatkanku pakaian "ayam-ayaman" dari kemucing...padahal aku hanya memakainya beberapa menit saja dalam sebuah peragaan busana TK...
Abah yang membelikanku bubur ayam atau roti goreng...sebagai teman belajar di pagi buta...dulu saat aku duduk di bangku SD...
Abah yang mengajariku ceramah untuk suatu perlombaan di SMP...sampai akhirnya aku juara I dan sejak saat itu, aku pun mulai berani tampil berbicara di depan umum...
Abah yang mengajariku untuk menjadi wanita yang kreatif dan memiliki ketrampilan...seperti menghias seserahan, hingga kemudian aku mendapatkan beberapa pesanan...
Abah yang mengajariku untuk menjadi wanita yang bisa masak, yang men-trainingku dengan mengajak membuat nasi goreng atau mie sayur andalannya...
Abah yang mengajariku untuk menjaga diri dengan memperhatikan apa yang aku pakai. Beliau tak pernah rela aku memakai pakaian pendek (baca: pakaian dengan aurat terbuka), bahkan sejak aku belum baligh...
Abah yang selalu setia untuk menjadi teman diskusi, meski sampai larut malam...
Abah yang mendukung untuk melakukan berbagai aktivitas, organisasi, kegiatan sosial-keagamaan, yang ini...sepertinya aku mewarisi dari beliau...
hingga...Abah yang telah menikahkanku dengan seorang lelaki sholeh...seperti harapannya....
dan...aku juga masih ingat akan pesan beliau sebelum aku berangkat ke Belgia untuk menyusul suamiku dan setiap kali aku telpon...."jaga diri baik-baik ya Nduk, jangan lupa ibadahnya..."
Ya, begitu banyak kenangan indah-ku bersama Abah...
Sedih! tidak bisa dipungkiri ada perasaan sedih yang menggelayut di hatiku...tetapi, dengan kebesaran hati dan do'a serta dukungan semuanya, Alhamdulillah...kami bisa menerima takdir ini... Apalagi, bukankah bagi orang beriman, kematian adalah sesuatu yang dinanti? karena berarti ia segera akan menikmati "jamuan" dari Allah dan bisa juga berarti di"selamatkan"nya dari keburukan/kemudharat-an...
Hal yang membuat dada ini terasa sesak adalah penyesalan...Penyesalan karena belum bisa menunaikan baktiku pada beliau. memang, tak kan pernah kita mampu membalas kebaikan kedua orang tua kita...tapi, ya...Aku pun berserah diri dan (kembali) menguatkan azzam untuk menyempurnakan baktiku pada orang tua...yang kini telah tiada, dan juga kepada beliau-beliau yang masih hidup. Masih ada ummi, bapak (mertua) dan ibu (mertua)...
semoga Allah masih memberi kesempatan dan membimbingku untuk menjadi anak yang sholehah...
Saudara, sahabat, teman dan handai taulanku, semoga ini juga bisa menjadi pengingat bagi kita agar kita terus menyiapkan "bekal" dengan memperbanyak amal kebajikan. Kita semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Mungkin, inilah maksud ungkapan Imam Ghazali ketika menafsirkan surah Al-Qashash ayat 77, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) dunia…” dengan menyebut, “Ad-Dun-ya mazra’atul akhirah.” (Dunia adalah ladang buat akhirat)
Dan juga, semoga ini menjadi pengingat kita agar terus berusaha bersyukur dan berbuat baik pada kedua orang tua kita sebagaimana yang telah Allah perintahkan.
"Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua Ibu Bapak". (An Nisa’ : 36).
Teriring do'a
Allohummagh firlahu warhamhu wa'afihi wa'fu 'anhu, Allohumma laa takhrimna ajrohu wa laa taftinna ba'dahu waghfirlana walahu...
Semoga Allah melapangkan kuburnya, mengampuni segala khilafnya dan menerima amal ibadahnya...
Semoga Allah memberi kekuatan dan kesabaran kepada kami yang ditinggalkan...
Saudara, sahabat, teman dan handai taulanku... Mohon dimaafkan pula jika Abah pernah berbuat khilaf, baik yang disengaja maupun tidak, mohon diikhlaskan semuanya...insya Allah, yang demikian itu akan melapangkan jalan kuburnya...
kami mengucapkan jazakumullohu khoiron katsir atas do'a, perhatian, dan dukungannya. Semoga Allah mencatatnya sebagai amal kebajikan. Amin ya robbal 'alamiin...
-----
Alhamdulillah, bersyukur pada-Nya...kemarin (18022012) diberikan kesempatan untuk bisa mengikuti acara haul I Abah tercinta. Serasa ikut hadir di sana, bersama ratusan orang yang duduk bersama mengingat-Nya.
Alhamdulillah, berkesempatan juga bersilaturrahmi, berbincang dengan saudara yang telah lama tak jumpa. Serasa menjadi obat rindu...rindu pada orang-orang tercinta.
Meski semua itu hanya melalui sambungan internet...semoga tidak berkurang keberkahannya...
Amien
Ceritanya, beberapa pekan yg lalu saya sempat melihat wall FB teman yg meng-upload trailer film "Hafalan Sholat Delisa".
Subhanalloh "merinding" menontonnya. Masya Allah... Astaghfirullohal adzim... Laa haula walaaa quwwata illa billah... Kalimat-kalimat itulah yang sempat meluncur dari bibirku, sambil mengingat "kehebohan" berita di TV yang melaporkan kejadian Tsunami tanggal 26 Desember 2004 yang lalu.
Sepertinya film yg merupakan visualisasi dari sebuah novel dengan judul yang sama ini bagus, sarat akan hikmah. Hmm, tapi sayangnya...saya sedang tidak di Indo. Tipis harapan ini untuk bisa menonton...huhu. Sesaat kemudian, saya jadi penasaran dengan novelnya. Maklumlah karena jauh dari Indo, jadi kurang update info.. Bisa jadi, novelnya ini sudah "meledak" duluan... seperti film-film yang merupakan visualisasi novel, seperti Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan sebagainya. Ternyata benar, novel yang diterbitkan tahun 2007 ini telah dicetak selama belasan kali. Tumb up!
Saya langsung bertanya pada mbah Google tentang novel ini..setidaknya resensinya. Menemukan beberapa resensinya ternyata membuat saya semakin penasarannn... Semakin kuatlah keinginan saya untuk membaca novel aslinya. Yaah... sekali lagi, tidak mudah mendapatkannya di sini. Give up? No way...hehe.
Browsing lagii, siapa tahu ada ebook-nya... beberapa kali mencoba, ga ketemu. Akhirnya, alhamdulillah...beberapa hari yang lalu saya dapeeet...^_^. Terima kasih sekali bagi yg sudah meng-upload... Salah satu link download-nya ada di sini. Untuk teman-teman yang di Indo, sepertinya lebih baik membeli novelnya langsung aja ya. Setidaknya bentuk apresiasi pada si penulis. Isnya Allah ga rugi. apalagi kalo ikhlas...:-))
Sama seperti novel-novel "berisi" yang pernah saya baca, saya ngebuuut sekali bacanya... Saya suka gaya penulisannya, sederhana dan menyentuh, meski sejujurnya saya kurang mengenal penulis buku ini yaitu Tere-Liye.
---
Delisa "menamparku" berulang kali!!!
Subhanalloh banyak hikmah yang kudapatkan. Di antaranya adalah :
1. tentang keutamaan sholat khusyu
Sebagai seorang muslim, pasti kita sudah paham akan salah satu kewajibannya, yakni sholat. Sholat ini tidak sekedar bentuk komunikasi kita langsung dengan Allah, tapi ternyata juga berimplikasi pada keseharian. Setidaknya itu yang saya pahami dengan mentadabburi Al Qur'an khususnya surat Al Ankabut ayat 45. di ayat tersebut disebutkan, "Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar ".Dengan kata lain, orang yang melakukan sholat, tidak mungkin bisa melakukan kemaksiatan/dosa alias tdak akan ada istilah STMJ (Sholat Terus Maksiat Jalan). Dahsyatnya sholat !! Tentu hal ini akan dapat terjadi, ketika shoat seseorang adalah sholat yang diterima oleh Allah, yang Ikhlas dan KHUSYU'!
Astaghfirullohal adzim, Kemaksiatan masih saja menghiasi hari-hariku, meski sholat sudah berulang kali kukerjakan. Ampuni hamba, Ya Allah...:(( Ajari hamba untuk bisa khusyu...
Dari novel ini saya belajar, setidaknya ada cara agar sholat kita khusyu, yaitu fokuuus (konsentrasi) dan memahami bacaan sholatnya. Sama-sama kita coba yuuuk, agar sholat kita tidak lagi sia-sia...
2. tentang ungkapan cinta
Membaca sekuel cerita bagaimana Delisa mengungkapkan rasa cintanya pada Ummi-nya, duuuh...membuat hatiku haru dan bahagia. Seandainya anak-anakku mengungkapkan hal yang sama (semogaaa...kelak aku punya anak-anak yg sholeh/ah...). Dan aku pun teringat saat telpon dengan ummi beberapa waktu yang lalu, dan di penghujungnya, dengan terbata-bata kuucapkan...love you, Ummi. Jauh dari wanita yang telah melahirkanku ini, membuatku gampang terharu jika mendengar atau membaca kisah tentang ibu, terlebih aku juga seorang wanita yang berharap suatu saat kelak berkesempatan untuk menjadi seorang ibu. Hemmm...
Dalam hadist yang diriwayatkan dari Anas bin Malik dikisahkan.Ada seorang sahabat yang berdiri disamping Rosulullah Shollalahu Alaihi Wa Sallam, lalu seorang sahabat lain lewat dihadapan keduanya. Orang yang berada disamping Rosulullah itu tiba-tiba berkata „Ya Rasulullah, aku mencintai Dia.“ "Apakah engkau telah memberitahukan kepadanya?“, tanya Nabi. "belum" jawab orang itu. Rosulullah berkata, "Nah, kabarkanlah kepadanya!“. Kemudian orang itu segera berkata kepada sahabatnya. "Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.“ Dengan serta merta orang itu menjawab, 'Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya“. (HR. Abu dawud)
Rasulullah sering menganjurkan para sahabat untuk menyatakan rasa kasih sayang terhadap sahabat lainnya. Suatu ketika Beliau bersabda, "apabila seorang muslim mencintai saudaranya (karena Allah) hendaklah dia memberitahukan (kepadanya)“ (HR. Abu dawud dan Tarmidzi)
Rasulullah saw bersabda: ” Tujuh orang yang akan dilindungi Allah dalam naungan-Nya yaitu: Imam (pemimpin) yang adil; pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah pada Allah; orang yang hatinya selalu terikat pada masjid; dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah pula; seorang lelaki yang dirayu oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan dan kecantikan tetapi ia menolaknya seraya berkata ‘Aku takut kepada Allah’; orang yang bersedekah sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat oleh tangan kanannya; dan seorang yang berdzikir kepada Allah sendirian lalu menitikkan airmatanya.” (HR. Bukhari Muslim)
So, ayoo...kita ungkapkan cinta tulus kita pada orang tua, pasangan (suami/istri), anak-anak, saudara, teman, dan pada semuanya... Ungkapkanlah cinta ini karena Allah semata...
3. tentang bahaya kebencian/iri/dengki
"Kecemburuan itu bagai api yang membakar semak kering. Cepat sekali menyala, melalap apa yang ada di sekitarnya." (HSD : 33)
Astaghfirulloh, tidak mudah menghindari rasa iri, cemburu, dan dengki. Akan tetapi, diingatkan kembali akan bahayanya, membuatku semakin sungguh-sungguh untuk menjauhinya.Terus melatih diri dengan mensyukuri apa yang Allah berikan dan terus berdo'a. dalam Al Qur'an surat Al-Hasyr ayat 9, Allah berfirman : وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (الحشر10) “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami, dan janganlah Engkau jadikan hati kami ada gill (dengki) terhadap orang-orang yang beriman, Ya Tuhan kami sesungguhnya Engkau adalah Maha Lembut dan Maha Pengasih”
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa : “Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Muslim no. 2963)
4. tentang keindahan syukur dan sabar
Membaca bagaimana kisah Delisa bisa bangkit menatap masa depan, setelah ujian yang ia hadapi. Musibah tsunami, kehilangan ummi dan ketiga saudarinya, kehilangan kawan-kawannya...Saluuut! Di usianya yang masih belia, ia mampu menyikapi "takdir dengan indah.
Rasulullah saw bersabda:
“Sungguh mengkagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan hal itu tidak akan diperoleh kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan, maka dia bersyukur. Maka hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia ditimpa kesusahan maka dia bersabar. Maka itu juga merupakan kebaikan baginya.” (Imam Muslim)
5. tentang makna keikhlasan.
Ikhlas itu di awal, di tengah dan di akhir perbuatan
Saya terkesan sekali dengan bagaimana upaya Delisa dalam menghafal bacaan sholatnya. Sampai kemudian ia menanyakan penyebab kesulitannya menghafal. Jawabannya adalah belum adanya keikhlasan!! Hanya karena menginginkan "kalung berinisial D" itu dia jadi kesulitan dalam menghafal.Subhanalloh, begitu dia mulai meluruskan niatnya, menumbuhkan keikhlasan, Allah memberikan banyak kemudahan padanya.
Aku jadi introspeksi diri, "apakah kesulitan atau hambatanku dalam melakukan kebaikan, entah itu menghafal Al Qur'an, bershodaqoh, belajar, dsb, juga karena belum adanya KEIKHLASAN dalam hatiku??" Sebuah pertanyaan yang membutuhkan perenungan. Aku bertaubat Ya Allah...
Bismillah, mari kita latih untuk selalu ikhlas dalam beramal. luruskan niat, sucikan+optimalkan ikhtiar dan akhiri dengan ketawakkalan.
Itulah beberapa hikmah yang kudapat dari membaca novel ini. Barokalloh buat penulisnya... Moga kelak aku pun bisa melahirkan tulisan-tulisan yang sarat akan hikmah. Bravo dunia kepenulisan Indonesia!
---
Nah, alhamdulillah sekarang pun sudah ada film kumplitnya (mulai tayang 20 desember 2011)... Terima kasih sekali lagi buat yang meng-upload.
Selamat menikmati dan semoga ada manfaat yang didapatkan ^___^
Bagaimana? Do you have any comment after watching the movie?
Barokalloh juga buat sutradara, produser, pemain dan semuanya... Kalian telah sukses...sukses membuat saya menangiiis :((( Insya Allah, juga sukses menyampaikan banyak "pesan". Semoga akan selalu lebih baik...
Terlepas dari kehebatan filmya, jujur saja... saya lebih suka membaca novelnya. Mengapa? Karena saya merasa lebih bebas mem-visualisasi-kan apa yang tertulis dalam novel. Dengan kata lain, aku juga bisa sekalian melatih daya imajinasiku.
Anyway, mabruk buat penulis dan sutradaranya... Semoga "pesan" yang ingin disampaikan sampai pada pembaca atau penontonnya...
Cerita ini kudapat dari seorang teman, sebut saja namanya Abdullah, warga negara Indonesia yang telah "beralih" kewarganegaraan Jerman, yang baru 20 tahun terakhir memeluk Islam. Subhanalloh, banyak kisah, himah dan pelajaran hidup yang kudapat selama berinteraksi dengan beliau. Termasuk salah satu kisah tentang Guru-nya ini...
----
Suatu ketika, Abdullah berjalan bersama Gurunya. Beliau adalah seorang syekh yang mengajarkan tentang Islam di sebuah masjid di Jerman. Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan muridnya yang lain, seorang bapak-bapak yang tampak lebih muda umurnya dibanding Abdullah, sebut saja namanya Umar. Dia sedang berjalan bersama anak kecilnya.
Setelah berbasa-basi menanyakan kabar diri dan keluarga, Umar meminta sesuatu pada Sang Guru. Dia meminta agar Sang Guru berkenan memberikan nasehat pada anaknya agar tidak terlalu banyak makan bonbon (permen). Sambil senyum Sang Guru menyampaikan permohonan maafnya pada Umar. "Maaf, aku tidak bisa melakukannya sekarang. Insya Allah satu atau dua pekan lagi kau dapat menemuiku kembali", jawabnya datar. Umar pun memaklumi, dia mengira mungkin gurunya ini sedang ada keperluan lain yang mendesak. Dia pun akhirnya meminta izin untuk pergi, melanjutkan perjalanannya. Berbeda dengan Umar yang bisa memaklumi, Abdullah yang dari tadi berada di samping Sang Guru berkerut keningnya.
Setelah Umar dan anaknya pergi, Abdullah bertanya pada Sang Guru. "Ya syekh, mengapa kau tidak mengabulkan permohonan Umar agar kau menasehati anaknya? kan itu mudah sekali", tanyanya dengan penuh rasa ingin tahu. Sang Guru langsung menerbitkan senyum manis yang tertahan. Sebelum berkata-kata, dia membuka tas yang dari tadi digantungkan di bahunya. Sambil dia tunjukkan isinya pada Abdullah, Sang Guru berkata, "Coba lihat Abdullah, di tas ku ini juga ada bonbon. kau lihat kan? Aku juga masih suka memakannya, aku masih belum bisa menghilangkan kebiasaan ini. Aku meminta waktu pada Umar barang satu atau dua pekan, agar aku bisa menghilangkan kebiasaan burukku ini dulu. baru kemudian aku akan memenuhi permintaannya." Jawaban itu membuat Abdullah memicingkan matanya. Seolah mengerti bahwa muridnya belum paham, sesaat kemudian Sang Guru melanjutkan, "Bagaimana mungkin aku menasehatkan sesuatu yang aku sendiri masih melakukannya. Akan sia-sialah nasehatku. Meski bisa saja ku menasehati, tapi nampaknya tidak akan "sampai" nanti di hati anak itu." Subhanalloh...penjelasan dari Gurunya itu membuatnya terpana, terpana dengan keluhuran budi beliau. Tampak wajah Abdullah menyiratkan bahwa ia paham. Senyum. hanya senyum, hanya dengan itulah ia mampu membalas pernyataan Gurunya. Akhirnya mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.
Bagi Abdullah, kejadian yang baru saja terjadi di depan matanya adalah sebuah hikmah yang luar biasa. Tidak salah rasanya dia menjadi murid dari seseorang yang memiliki keluhuran budi seperti Sang Guru.
----
Subhanalloh, kisah itu cukup inspiratif buatku.
Ada beberapa hikmah yang bisa diambil :
- Berpikir sebelum bertindak
- Menyampaikan sesuatu yang telah kita perbuat, dan sebaliknya tidak menyampaikan sesuatu yang tidak kita perbuat.
- Menjaga lisan
- Memperhatikan adab nasehat-menasehati
- Tidak akan menjadi hina seseorang yang senantiasa berhati-hati (wara') dalam hidupnya
Al-Qur’an surat As_Saff ayat 3 “Kaburo maqtan ‘indallaahu an taquuluu maa laa taaaf’aluun”, yang artinya amatlah besar kemurkaan disisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat.
Semoga kita terlindung dari adzab Allah di dunia hingga di akhirat.
Tetap semangat dalam mengamalkan, mengajak dan menyebarkan kebaikan...^__^
Saat bertemu dengan ustadz di Brussel, saya sempat menanyakan Metode Mutiara Qur'ani. Apakah metode ini? Sekedar informasi... Metode ini adalah salah satu metode cara membaca Al Qur'an, seperti metode IQRA', Qiro'ati, Al Barqi, Tilawati, dan lain sebagainya, yang sudah kita kenal. Metode ini disusun oleh Ust. Arifin Hamim, Al Hafizh (beliau adalah kakak dari Ust. Taufik Hamim) dan digunakan di yayasan Muntada. Metode ini digunakan untuk membaca Qur'an versi Mushaf Madinah (Rosm Utsmani).
Mengapa saya tertarik? Hmm...sebenernya saya ingin memakai metode ini untuk memperbaiki bacaan Al Qur'an saya. Selain itu, saya juga melihat antusiasme muslim di sini untuk belajar Al Qur'an. Siapa tahu saya bisa menjadi "penyambung lidah"...hehe. Apalagi saya juga punya sedikit basic pengajar TPA...hehe. Dan sekarang pun sedang mendampingi beberapa ibu2 dan anak2 Maroko yg ingin belajar mengaji, dan membantu jg di TPA Hasselt (komunitas beberapa muslim Indo di hasselt, yang anak-anaknya pada diajarin ngaji). Intinya karena saya cinta Al Qur'an lah dan ingin bisa membantu diri saya dan org lain untuk "mengapresiasikan" cinta ini, khususnya dengan membaca AL Qur'an yg baik dan benar.
Sayang sekali, karena keterbatasan waktu Ustadz selama di Brussel, beliau tidak bisa menjelaskan panjang lebar. Akan tetapi, kabar gembiranya, beliau menginformasikan akan ada "Training for Trainer" alias Dauroh Metode Mutiara Qur'ani (MQ) untuk pengajar TPA di SGB, Utrecht, Belanda, beberapa hari mendatang. Alhamdulillah saya kenal dengan beberapa pengajarnya... Sepulang dari acara di Brussel ini, langsung saya mengontak mereka. Alhamdulillah...gayung bersambut, kami dipersilakan untuk ikut acara ini. Bahkan ada teman yang menyediakan tempat penginapannya, karena acara ini sendiri dilaksanakan selama 2 hari. Kalau sudah rejeki mah... emang ga bakal kemana :-)).
Alhamdulillah, tgl 29 Desember, hari Kamis jam enam pagi, sebelum subuh (iyaa... shubuhnya baru jm 06.45 CET..so, akan shubuh-an d kreta nih), kami keluar rumah. menuju halte bus, dengan tujuan stasiun Leuven. Karena beberapa saat menunggu di halte terdekat, bus yang kami tunggu belum juga muncul, kami memutuskan untuk berjalan (setengah berlari tepatnya...hehe) menuju halte yang lain yang pilihan busnya lebih banyak :-). Alhamdulillah tak perlu menunggu lama, saat kami sampai di halte Rijschoolstraat ada bus yang datang. Bus itu membawa kami ke stasiun. Op tijd! Saat sampai di stasiun, kulirik jam di HP, karena emang ga punya jam tangan...hehe, masih ada waktu skitar lima belas menit. Akhirnya kami berjalan santai menuju perron tempat kereta kami. Kami tidak langsung menuju Utrecht, Belanda. Kami memilih "mampir" sebentar di Brussel, dari sana kami bisa memiliih kereta arah ke Utrecht, meski nantinya harus ganti kereta lagi di Rotterdam.
Setelah total perjalanan sekitar 4 jam, sampailah kami di stasiun Utrecht Central. Alhamdulillah... Dari sini, kami masih harus naik bus. Alhamdulillah tidak sulit mencarinya. Sesampainya di halte bus yang dituju, kami mencari lokasi rumah teman kami, dimana pelatihan ini akan dilaksanakan, pada peta yang terpasang. Syukurlah tidak terlalu sulit menemukannya....
Lima belas menit sebelum jadwal di "undangan", alhamdulillah kami sudah berada di lokasi. Sambutan hangat si tuan rumah serasa mampu menghilangkan penat setelah perjalanan selama hampir lima jam. Apalagi semangat untuk menimba ustadz yang sudah jauh-jauh datang dari Indonesia juga masih berkobar.
Satu per satu peserta berdatangan. Peserta yang berjumlah tak lebih dari 10 orang ini adalah semua pengajar (dan calon pengajar) TPA di SGB, sebuah yayasan yang bercita-cita mendirikan sebuah masjid dan Islamic center di Utrecht. Plus 2 orang stranger dari Belgia, aku dan suamiku.
Setelah sholat dhuhur berjama'ah dan makan siang, acara inti dimulai. Meski terlambat dari jadwal yang direncanakan, semoga keberkahannya tidak berkurang.
Acara diawali dengan perkenalan oleh setiap peserta dan sekaligus masing-masing menceritakan aktivitasnya masing-masing yang tidak jauh dari pengajaran Al Qur'an. Ada yang pernah mengikuti pelatihan metode Qira'ati, Iqra, BCM (Bermain Cerita dan menyanyi), dan ada juga yang belum pernah mengikuti pelatihan apapun. Kita juga diminta untuk memperdengarkan bacaan Al Qur'an kita, agar ustadz mengetahui kemampuan baca Qur'an kita.
Nah, kini tiba gilirannya ustadz memperkenalkan Metode MQ yang katanya sudah diperkenalkan tidak hanya di tanah air, tetapi juga di Australia dan US.
Secara umum, kalau boleh saya simpulkan metode ini :
1. menggunakan pedoman mushaf Madinah (rosm Utsmani) --> hal ini, menurut saya salah satu kelebihannya. karena mushaf ini berstandar, berbeda dg Qur'an cetakan Indo, beda penerbit terkadang terdapat perbedaan tanda baca (biasanya tanda waqaf yang berbeda) dan bentuk hurufnya juga.
2. Metode ini menggunakan 2 buku, yaitu buku dasar dan pedoman tajwid. Bukunya pun tipis.
3. Contoh kata-kata yang digunakan dalam bukunya diambil dari kosakata dalam Al Qur'an, begitu juga contoh-contoh kalimatnya. bahkan penulisannya mencontoh font Arab Qur'an mushaf madinah yang asli.
4. Metode ini cukup sederhana dan aplikatif, insya Allah kita akan cepat bisa.
Setelah itu, barulah kita membahas halaman per halaman. Sebagai calon guru, tentu kita harus lebih baik atau selangkah lebih maju lah dari murid-muridnya. Dengan pembahasan yang cukup lugas dan jelas dari ustadz, kami semua dapat mengikutinya dengan baik. Pelatihan di hari pertama ini diakhiri sampai waktu ashar saja, karena sebagian pesertanya ada yang harus berangkat kerja.
Beruntung sekali, setelah acara ditutup pun kami masih bisa berdialog dengan ustadz, menanyakan hal-hal yang bersifat detail tentang Cara membaca Al Qur'an yang baik dan benar.
Keesokan harinya, Jum'at, acara dimulai pukul 11 untuk melanjutkan pembahasan buku 1 MQ. Karena keterbatasan waktu Buku 2 tidak sempat terbahas, dan ustadz mempersilakan jika kita ingin membahas buku 2 nanti secara online. Setelah "maraton" plus diselingi sholat dan makan, alhamdulillah buku setebal 53 halaman ini selesai pula dibahas saat jam menunjukkan pukul lima sore. Selesai?? beluuum... masih ada lagi buku yang belum dibahas, yaitu buku "Jurus Jitu menghafal Al Qur'an". Buku ini merupakan kumpulan tanya jawab atau konsultasi tahfidz di www.warnaislam.com yang diasuh oleh Ust. Taufik Hamim. Subhanalloh, buku ini serasa mengupas tuntas pertanyaan-pertanyaanku seputar menghafal Al Qur'an, apalagi dilengkapi beberapa kisah penghafal Al Qur'an. Smangaaat.... Hmm, buat teman-teman yang penasaran dengan isi bukunya, sabar yach... Resensinya menyusul...^_^
Di hari terakhir di Belanda, hari Sabtu, saya menyempatkan menghadiri acara KIAT (Kajian Awal dan Akhir Tahun) tahun ini d SGB. Sekilas tentang acara KIAT, biasanya acara ini dilaksanakan dengan mabit (bermalam). Namun, tahun ini agak istimewa, panitia mendesain acara yang cukup cantik..."Parade Al Qur'an". Penasaran acaranya seperti apa? Baca saja di liputannya ya... di sini . Subhanalloh, jadi disemangati sama adek-adek nih... Semoga semakin banyak terlahir generasi Qur'ani... Amien
Subhanalloh, akhir tahun yang cukup berkesan bagiku... Semoga barokah, dan semoga ini menjadi awalan untuk terus menghiasi hari-hari ke depan dengan Al Qur'an, dengan tilawah (membacanya dengan benar), tadabbur (menela'ahnya), hifzh (menghafalnya), Al 'amalu bihi (mengamalkannya), dan mengajarkannya.
"Apa hikmah enam tahun pernikahan kita, Mas? tanyaku ingin tahu pada mas Achmad, yang tak lain adalah suamiku tercinta, di perjalanan pulang menuju rumah dari dinner date semalam.
...
Dear all,
Hari ini...tepat 6 tahun yang lalu, rumahku ramai, tidak seperti biasanya. Hampir seluruh keluargaku sibuk, begitu pun dengan tetangga kanan-kiriku. Bahkan kesibukan sudah mulai tampak beberapa hari sebelumnya. Meski repot, tetapi semuanya bahagia. Keceriaan tampak di wajah-wajah mereka. Bunga-bunga yang dirangkai dengan indah ditata di setiap sudut rumah. Kursi-kursi ditata rapi dan tenda yang cukup besar pun sudah berdiri tegak di halaman rumah (bahkan) sampai di jalan depan rumah. Beraneka makanan dan minuman telah disiapkan untuk suguhan bagi para tamu undangan. Tidak berlebihan sepertinya, karena akan banyak orang yang berdatangan. Tetapi, semua itu tetap dalam kesederhanaan. Ada apa gerangan? Ternyata ada hajatan di rumahku. Abah dan ummi melakukan tasyakuran atas pernikahan putri bungsunya, yaitu aku.
Almarhum Abah dan suamiku
- dua laki-laki yang sangat kucintai dan kuhormati -
Alhamdulillah, enam tahun sudah kami menjalani bahtera rumah tangga ini. Mungkin usia yang masih belum lama, meski tidak juga bisa dikatakan sebentar, karena kami masih terus belajar...belajar dengan rumah tangga teladan ala Rasulullah SAW. Dan rasanya, perjalanan ini juga masih panjang...dan masih banyak yang harus kami pelajari, pahami dan perbaiki... Tapi insya Allah, kami akan terus berusaha.
Banyak hikmah dan pelajaran yang kami dapat. Di antaranya adalah hikmah KEBERSAMAAN. Hikmah ini sangatlah kami rasakan. Mengapa?
Awal kebersamaan, rahasia Tuhan
Pada awalnya, kami adalah dua insan yang tidak saling mengenal. Sampai suatu ketika, biidznillah, ada teman kami yang mengenalkan. Singkat cerita, akhirnya kami ber-ta'aruf. Sebuah istilah yang cukup nge-trend beberapa tahun yang lalu, saat lahir sebuah novel karya Kang Abik yang cukup fenomenal, yaitu "Ayat-Ayat Cinta". Ada juga teman yang bilang proses pernikahan kita ala Fahri dan Aisha, tokoh yang ada di novel itu.Hmm...sebenarnya aku ga terima dibilang begitu. Karena mungkin kisahku akan lebih indah dibanding novel itu, hanya saja aku yang tak sepandai kang Abik dalam merangkai cerita...hehe, just kidding loh! tetapi yang pasti, kelebihannya adalah kisahku adalah sebuah kisah nyata yang terjadi beberapa tahun sebelum novel ini terbit (teuteup yach...hehe. maksa.com). Tetapi, pada intinya...tahap pernikahan dengan cara seperti ini adalah sangat mungkin terjadi (soalnya banyak yang menganggap metode ini ngga mungkin...) dan lebih seru...pacaran setelah menikah:-).
Proses ta'aruf yang tidak lama ini (mulai dari ta'aruf, perkenalan keluarga hingga hari -H- memakan waktu skitar 2 bln...ingin tahu cerita serunya? tunggu saja ya...:D), alhamdulillah berujung pada pernikahan ini, membuatku merasa semakin tak berarti di hadapan Allah yang Maha Besar. Apalagi kalau dipikir-pikir, waktu itu saya adalah seorang mahasiswi baru (meski sebelumnya aku sudah bergelar Ahli Madya / A.Md dan sempat bekerja sebagai junior auditor). Baru duduk di semester satu lagi. hari-hari kuliah akan dipenuhi dengan berbagai tugas, belum lagi KKN dan PPL yang masih harus kutempuh di semester-semester berikutnya. Suatu hal yang tak pernah terpikir oleh kami sebelumnya, terjadi begitu saja (tentu akhirnya, keputusan ini dibuat dengan penuh tanggung jawab loh...), tentu atas kehendak-Nya. Sejak awal "kebersamaan" kami, aku merasa bahwa inilah anugerah dari Allah, yang mungkin juga jawaban atas pintaku pada-Nya:). Bahkan "kebersamaan" ini, dengan suka dukanya, ternyata tidak menjadi penghalang bagiku untuk kemudian bisa menyelesaikan studi selama (tepat) 2 tahun dan dengan hasil "cumlaude". Alhamdulillah. Tentu, tidak terlepas dari support, pengertian dan do'a yang cukup besar dari suami dan juga keluargaku.
LDR
Sebelum aku menyelesaikan tugas akhir, aku mendapat kabar gembira. Suamiku berkesempatan melanjutkan studi di Belgia dengan beasiswa. Alhamdulillah, sebuah kesyukuran yang tak terhingga. Namun di sisi lain, ada perasaan yang hampa. Di saat aku ingin memulai kehidupan rumah tangga yang normal, dimana aku bisa berperan sebagai istri yang (lebih) baik, seiring dengan selesainya tugasku sebagai seorang mahasiswi. Dalam kondisi itu, aku dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa aku harus "berjauhan" dengan suami. Karena tidak mungkin kami bisa pergi bersama-sama. Aku masih harus menuntaskan tugas akhir dan suami yang juga masih harus beradaptasi kondisi di Belgia (apakah aku memungkinkan ikut atau tidak?).Ya Allah... dalam sujudku pun aku berharap agar Allah memberi jalan keluar terbaik untuk kami. Suamiku berusaha meyakinkanku bahwa ia akan mencari informasi ttg kemungkinan aku menyusul ke sana. Sungguh...aku jadi agak terhibur dengan janjinya, apalagi aku memang mendukung rencana studi-nya ini. Demi mengejar ilmu dan pengalaman yang barokah...insya Allah. Akhirnya, di pertengahan Ramadhan th 2007, aku melepas keberangkatan suamiku untuk menuntut ilmu. Berattt... tapi, berusaha ikhlas. terasa berat, mungkin karena selama ini aku belum pernah terpisah dari orang-orang terdekatku. Sejak lahir hingga menikah aku menetap di Malang bersama keluarga. Berbeda dengan suamiku, setidaknya dia sudah lebih terlatih untuk "jauh", dengan pengalamannya merantau sejak kuliah. Otomatis sejak hari itu, kami menjalani yang namanya LDR (Long Distance Relationship). Hari-hari dipenuhi dengan suka duka. Kadang-kadang ada tawa, air mata, canda atau kesalah-pahaman. Alhamdulillah masih ada telpon dan internet yang cukup membantu kami dalam menjaga "kebersamaan" ini. Satu sarana lain yang luar biasa membantu terjaganya "kebersamaan" ini adalah Do'a. Kami yakin, do'a itu tidak terbatas dimensi ruang dan waktu, dan juga akan didengar oleh Allah yang Maha mendengar. Hal ini membuatku sering terhanyut dalam buaian do'a.
Family Reunion
Alhamdulillah setelah setahun lebih menjalani LDR, saya berkesempatan untuk menyusul suami ke Belgia. Cerita tentang awal perjalananku ke Belgia secara lengkapnya bisa dibaca di sini. Alhamdulillah, fabiayyi aala i robbikuma tukadz dzibaan...Sungguh dengan adanya pengalaman LDR, membuatku lebih menghargai "kebersamaan" ini. Apalagi banyak nikmat yang telah Ia berikan padaku, termasuk kesempatan untuk melihat kebesaran Allah di belahan bumi yang lain. Kesempatan untuk hidup di negara yang berbeda jauh budaya dan karakter orang-orangnya. Kesempatan untuk bergaul dengan berbagai macam orang dengan berbagai karakter dan latar belakang. Kesempatan untuk menikmati hal-hal yang belum pernah kubayangkan, tinggal di luar negeri. Semoga barokah (edisi berbagi cerita ttg aktivitas yang kuikuti di sini menyusul ya, sedang dalam proses "pengetikan"...hehe).
Enam Tahun
Subhanalloh walhamdulillah...enam tahun sudah layar ini terkembang, mengarungi bahtera kehidupan. Semoga semakin terarah pada tujuan dan semakin kokoh dalam menghadapi setiap halang rintang. Semoga indahnya "kebersamaan" kami yang masih berdua ini, disempurnakan oleh Allah dengan hadirnya keturunan yang sholeh/ah, yang bisa menjadi pewaris kebaikan dan menjadi investasi bagi kami di dunia dan di akhirat. Semoga "kebarsamaan" kami bisa memberi manfaat bagi kami sendiri, dimana kami bisa saling melengkapi satu sama lain dan saling berbagi, dan juga bagi orang-orang di sekeliling kami. Semoga Allah meridloi.
Suamiku, terima kasih atas segenap cinta, kasih sayang, pengertian dan pengorbanan... semoga Allah membalas semua itu dengan kebaikan yang berlipat ganda.
Suamiku, mohon maaf jikalau aku masih belum menjadi istri yang baik untukmu, aku masih belajar untuk menjadi istri yang shalihat, qanitat dan hafidzat. Bimbing aku ya..
Semoga Allah memberikan keberkahan, sakinah, mawaddah, rahmah, wad da'wah dalam rumah tangga kita khususnya, dan rumah tangga-rumah tangga muslim yang lain.
"Apa hikmah enam tahun pernikahan kita, Mas?" tanyaku ingin tahu pada mas Achmad, yang tak lain adalah suamiku tercinta, di perjalanan pulang menuju rumah dari dinner date semalam.
Pernahkah kita dilanda kebingungan saat "menilai" sesuatu itu baik bagi kita atau buruk bagi kita?
Dikisahkan, bahwa pada suatu hari,
seorang sahabat Nabi s.a.w. yang bernama Wabishah bin Ma’bad, datang untuk menanyakan tentang hakikat kebaikan dan keburukan. Dari pertanyaan itu,
Nabi s.a.w. pun bersabda: ”Engkau datang menanyakan kebaikan?” ”Benar wahai Rasulullah,” kata Wabishah, ”Tanyakan pada hatimu! Kebaikan itu adalah sesuatu yang membuat jiwamu tenang dan hatimu tenteram, sedangkan keburukan adalah sesuatu yang menggelisahkan hati dan menyesakkan dadamu.” (HR Ahmad dan Ad-Darimi).
So, kalau bingung...mari kita tanyakan pada hati kita! *but, ingaat... hati ibarat cermin. Kalau cerminnya burem, nggak bisa dipake ngaca kan?? jadi, dibersihin dulu yaak :-)*
Baru saja saya membaca sebuah berita yang membuat hati ini sedih. Singkatnya, berita tersebut mengisahkan seorang ibu yang berusaha memperjuangkan kebenaran. Dia melaporkan tindakan kecurangan (mencontek massal saat Ujian Nasional) yang dilakukan di sekolah anaknya. Tetapi, bukannya didukung...usahanya itu mendapat tanggapan negatif dari sebagian orang, khususnya tetangga kanan-kirinya. Bahkan dia diusir dari rumahnya. Hmm...saya tidak ingin terlalu banyak menceritakan kisah ini, bikin tambah sedih :'(... So, kalau ada yang ingin membaca beritanya, silakan dilihat di sini atau di sumber yang lain. Masya Allah...sudah sebegitu parahkah kondisi bangsaku? Dimana nilai kejujuran sudah menjadi sebuah hal yang sulit untuk diterima, dibenci bahkan dinistakan...
Anyway, saya ingin mengajak kita semua mengambil hikmah dari kejadian ini. Agar kita tidak terjebak pada sebuah sikap yang hanya mencemooh, mengeluh, mencibir atau apapun namanya, seperti yang tidak sedikit dilakukan di antara kita, tanpa berusaha mengambil pelajaran atau melihat dari sudut pandang yang lain atau merasa jauuuh lebih baik (padahal...belum tentu kita lebih baik kan?). Bisa jadi, kejadian-kejadian di sekeliling kita, meski mungkin tidak berdampak langsung pada diri kita, adalah peringatan / pengajaran dari Allah untuk kita juga.
----------
Ada 2 poin yang bisa digarisbawahi dalam permasalahan tersebut, yaitu :
1. Ketidakjujuran (mencontek saat ujian nasional)
Mencontek adalah suatu tindakan yang tidak terpuji. Sepertinya siapapun tahu, namun kadang-kadang tidak mau tahu atau menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa, remeh atau bisa dimaklumi. Sekalipun tujuannya baik, yaitu mendapatkan ke-LULUS-an. Lagi pula, apakah tujuan SEKOLAH itu hanya ingin mengejar IJAZAH, bukan ilmu yang BAROKAH? Masya Allah... Jangan sampai kita menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Kalaupun kita dulu pernah melakukannya, yuuk banyak-banyak beristighfar...semoga Allah mengampuni...*introspeksi diri*.
Kita semua berharap, generasi mendatang adalah generasi yang tidak lebih baik , atau setidaknya tidak lebih buruk,dari generasi sebelumnya. Jangan sampai kita membiarkan diri kita dan anak-cucu atau penerus kita terbuai dalam sikap pragmatis yang hanya melihat dan mengejar hasil akhir, tanpa memperhatikan proses meraihnya.
Yang membuat saya (tambah) sedih adalah konon katanya yang menyarankan untuk melakukan contek-mencontek ini adalah sang guru. Naudzubillah... GURU, yang dalam bahasa Jawa merupakan akronim dari diGUgu lan ditiRU (artinya Guru itu harus bisa jadi teladan), malah melakukan tindakan yang tidak terpuji. Apa jadinya anak didiknya kalau sang gurunya saja sudah mengajarkan demikian? Ingat pepatah "Guru kencing berdiri, murid kencing berlari"?. Semoga beliau, dan juga siapapun yang masih melakukan hal yang sama, segera diberikan kesadaran untuk kembali ke jalan yang benar, menunaikan amanah yang mulia sebagai pendidik...pencetak generasi terbaik untuk kemajuan umat...
2. Anjuran untuk jujur dan menyampaikannya
Kejujuran merupakan suatu nilai yang dijunjung tinggi dalam Islam. Saya rasa, siapa pun setuju hal itu karena memang sesuai fitrahnya. Siapa sih yang mau dibohongi/dicurangi? Hati nurani pasti akan teriak ketika melihat atau merasakan suatu kecurangan atau ketidak-jujuran.
Kita pun sangat dianjurkan untuk menyuarakannya. Bagi umat Islam, mungkin sudah tidak asing lagi dengan pesan Rasulullah SAW : "Qulil haqqan walau kaana murran", yang artinya, katakan yang benar meski itu pahit. Bismillah...insya Allah, Allah akan menampakkan yang haq dan yang bathil. Dan kita, sebagai warga negara yang tinggal di negara hukum, ada mekanisme yang harus dijalani untuk menegakkannya. So, selama mekanisme tersebut kita jalani...insya Allah, masih dapat dibenarkan dan tetap semangat! Buat pihak-pihak yang berwenang pun juga harus ikut berperan dalam menegakkannya, dengan menjalankan amanah sebaik-baiknya. *Special buat ibu S, semoga Allah memberimu kekuatan*
Rasulullah menyatakan dengan sabdanya: "Wajib atas kalian untuk jujur, sebab jujur itu akan membawa kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan jalan ke sorga, begitu pula seseorang senantiasa jujur dan memperhatikan kejujuran, sehingga akan termaktub di sisi Allah atas kejujurannya. Sebaliknya, janganlah berdusta, sebab dusta akan mengarah pada kejahatan, dan kejahatan akan membewa ke neraka, seseorang yang senantiasa berdusta, dan memperhatikan kedustaannya, sehingga tercatat di sisi Allah sebagai pendusta" (HR. Bukhari-Muslim dari Ibnu Mas'ud)
Yuuk kita Mulai menanamkan ke-JUJUR-an pada diri kita masing-masing, Mulai dari hal yang kecil, Mulai dari sekarang (penerapan prinsip 3M-nya Aa Gym niyyy:)). Kejujuran pun perlu ditegakkan dalam berbagai hal, bukan hanya di dunia pendidikan. Yang ibu rumah tangga, jujur dalam mengelola keuangan rumah tangga ; yang lagi sekolah, belajar yang rajin, jadi ga perlu nyontek saat ujian ; yang pekerja..kalo jam kerja ya kerja...bukan melakukan aktivitas yang lain ; yang pimpinan, jadi yang amanah dan "membayar" pekerjanya sesuai haknya ; begitu seterusnya. Saya yakin ke-JUJUR-an ini bisa menjadi awal kebajikan yang lain dan bisa mencegah kita berbuat maksiat. koq bisa? Ya iyalah...lagian berbohong pada yang Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui itu tiada gunanya kan? karena Ia tetap akan merekam apa yang kita lakukan, dan memintai pertanggung-jawaban. Kalaupun di dunia kita bisa "ngeles" (menghindar), bisakah nanti kita begitu di akhirat?
----------
And the last...Harapan itu masih ada! Harapan untuk Indonesia yang lebih baik karena saya yakin masih ada banyak orang JUJUR di negeri ini. Kalapun sudah tinggal sedikit...semoga kita menjadi bagian yg sedikit itu dan bisa memperbanyaknya. Semoga Allah memberi kekuatan dan keistiqomahan pada para pejuang kebenaran dan kejujuran. Amin.