Posts tonen met het label muallaf. Alle posts tonen
Posts tonen met het label muallaf. Alle posts tonen

dinsdag 13 augustus 2013

Cerita Charlotte



Dear all,

Setelah sebelumnya saya bercerita tentang Victoria, muallaf Belgia yang kutemui di acara Benefit Ramadan yang lalu, kali ini aku ingin cerita tentang Charlotte. Siapakah dia? Dimanakah aku bertemu dengannya? Apa yang ingin kuceritakan tentangnya? siip..simpan dulu pertanyaannya yaa...Aku akan menceritakannya satu per satu :-)

Charlotte adalah seorang gadis cantik kelahiran Belgia yang usianya belum genap18 tahun. Pertemuan kami memang tidak disengaja. Saat Ikram, anak dari temanku yang orang Maroko, silaturrahim ke rumahku beberapa hari yang lalu, dia mengajak temannya, Charlotte. Awalnya, nothing special dalam obrolan kami. Sampai kemudian Ikram memperkenalkan temannya ini.

Si gadis manis berkulit putih ini tampil cantik dengan hijabnya. Dengan santun ia menceritakan bahwa Ramadhan ini adalah puasanya yang pertama. Lho koq? Ya, Charlotte ini baru mengucap syahadat bulan Oktober tahun lalu. Charlotte yang memiliki nama muslim Amina ini mengaku senang dan tenang selepas memutuskan menjadi muslimah, meski belum semua keluarga besarnya menerima ke-Islam-annya. Akhirnya aku pun menodongnya untuk menceritakan perjalanannya menemukan hidayah Islam dan kondisinya saat ini.

Akhirnya mengalirlah cerita ini dari bibir oeghti Amina :-)

Charlotte mulai mengenal Islam dari teman-temannya saat ia bekerja di supermarket SPAR. Dia juga sempat terlibat dalam obrolan teman-temannya, tapi sedikit pun dia tidak tertarik, hanya respect saja. Teman-temannya ini sesekali memberikannya buku-buku tentang Islam. Ada beberapa sih yang ia baca, tapi masih saja tidak ada ketertarikan.

Seiring berjalannya waktu dia semakin sering berinteraksi dengan teman-teman sekolahnya yang muslimah juga. Mereka semuanya berbuat baik padanya. Suatu ketika tanpa disadarinya dia menyebut dirinya seorang muslimah. "Ik ben moslem", ucapnya. Setelah itu, dia kaget sendiri dengan apa yang barusan dia ucapkan. Apa yang terjadi? sebagai sosok yang lahir dan tumbung di lingkungan keluarga Katolik, jelas dia baru akhir-akhir ini mengenal Islam. Keluarganya memang bukanlah keluarga yang religius. Bahkan dia bersama keluarga besarnya terakhir ke gereja di saat usianya 12 tahun. Ayahnya sendiri sudah tidak pernah lagi practice ke-Katolik-annya, kalau oma dan opanya sih masih rajin ke gereja setiap minggu.

Sejak kejadian itu, dia mulai serius untuk browsing tentang Islam, tak segan pula ia bertanya pada teman-temannya yang muslim. Alhamdulillah Allah memudahkan jalan baginya... Dia bertemu dengan muslimah-muslimah yang berhati baik dan sabar memberikan penjelasan padanya tentang apa yang ingin diketahuinya. Akhirnya, setelah berjalan sekitar setahun dia semakin mantap dan yakin akan keputusannya untuk bersyahadat.

Oktober 2012 menjadi bulan yang istimewa buatnya, dihadapan beberapa muslimah, dia mengucapkan syahadat. Ahlan wa sahlan ya oeghti! Semoga Allah menguatkan imanmu. Setelah itu, ia mulai semakin intensif mempelajari tentang Islam. Alhamdulillah keberadaan organisasi yang mewadahi para muallaf ini semakin menguatkan dirinya, dia menjadi merasa tidak sendirian. bagaimana dengan respon keluarganya? Dia masih merahasiakan ke-Islam-annya ini dari kedua orang tuanya. Kedua saudara perempuannya mengetahui, tetapi keduanya berbeda sikap. Yang pertama menerima atau tidak mempermasalahkan, tetapi yang kedua menjaga jarak darinya.

Seiring berjalannya waktu, dia merasa sudah cukup kuat (meski masih takut dan khawatir dengan respon keluarganya) dan merasa perlu untuk menyampaikan ke-Islam-annya ini pada kedua orang tuanya.**Aku jadi ingat, tgl 5 Juli yg lalu aku mendapat sms begini : Salam, als jullie dohor gaan bidden doe dan doea voor onze bekeerde zuster, ze gaat vandaag aan haar ouders laten weten dat ze bekeerd is en ze is meskina heel bang. Dan aku baru tahu, sister yg dimaksud adalah Charlotte** Dia memilih menjelang Ramadhan tahun ini untuk membuka rahasianya. Bagaimana responnya? keduanya tidak bisa menerima, meskipun mereka sebenernya juga agamanya Katolik KTP alias tidak pernah lagi ibadah ke gereja. Semoga lambat laun, nantinya mereka bisa menerima.

Sejak dia menceritakan ke-Islam-annya, hubungan keluarganya menjadi kurang harmonis. Dia tetap bersabar dan terus berdo'a. Bahkan ketika di bulan Ramadhan ini dia berpuasa, untuk kali yang pertama, kedua orang tuanya menanggapi dengan sinis bahwa dia hanya menyakiti dirinya sendiri. Saat dia memutuskan untuk berjilbab, kedua orang tuanya mengancamnya tidak akan membiayainya sekolah. jadilah dia berjilbab saat menemui adik-adiknya, saat keluar rumah tanpa kedua orang tuanya. kalau jalan bersama kedua orang tuanya atau saat sekolah, dia tidak memakai jilbabnya, meski dia merasa sedih dan tertekan. **Masya Allah, saat kutanya mengapa memutuskan berjilbab? dia menjawab, sudah hampir setahun ini dia memeluk Islam dan dia merasa sudah cukup yakin akan kewajiban seorang muslimah untuk berhijab. Aku jadi malu, aku butuh waktu belasan tahun untuk memahami kewajiban itu. Luar biasa muslimah yang satu ini...smg smakin Allah kuatkan iman Islamnya.** Dia pun meminta bantuan do'a dari kita semua agar kedua orang tuanya dilembutkan hatinya.

Saat di acara I'tikaf di malam 27 Ramadhan yang lalu di masjid Al Ihsan, dia mendatangiku. Dia ingin belajar membaca Al Qur'an. Dia memintaku membaca beberapa ayat Al Qur'an dan dia menirukan. Aku terharu saat dia menunjukkan Al Qur'annya. Juz 'Amma terjemahan yang penuh dengan label warna-warni sebagai penanda surat-surat mana yang sudah dipelajari dan mana yang sedang dipelajari. Dia cerita bahwa sudah ada beberapa surat pendek yang dia pelajari. Dia baru bisa membaca latinnya saja, belum belajar Arabnya. Sungguh...kalau boleh jujur aku terharu dengan kejujurannya dan keseriusannya untuk belajar. bahkan ia juga menunjukkan sebuah buku (kisah nabi-nabi) yang sedang ia baca. Bukan hanya dibaca, tapi dia pun sambil membuat resume-nya. Aku pun menawarkan dia belajar dengan IQRA, kebetulan aku punya file-nya. Dia pun mengangguk senang. Alhamdulillah... Ya Allah, perkuatlah Islam dengan orang-orang yang sungguh-sungguh dalam belajar dan mengamalkan syariat-Mu..aamiin

Itulah ceritaku tentang sosok Amina alias Charlotte. Semoga bisa menginspirasi kita semua, para muslimah khususnya untuk terus semangat dalam belajar Islam, dalam mengamalkan dan mendakwahkannya...
jangan pernah meremehkan kebaikan-kebaikan kecil sebagai sarana dakwah.

Semoga Allah memberi hidayah kepada kita hingga akhir hayat...aamiin
ya muqollibal quluub, tsabbit quluubana 'ala diinik

zondag 11 augustus 2013

Cerita Victoria



Dear all,

Kali ini saya ingin cerita tentang sosok Victoria yang kutemui di acara Benefit Ramadan yang lalu.Sebenarnya kali itu bukanlah kali pertama aku bertemu dengannya. Sebelumnya, aku sudah melihatnya sebagai MC sebuah acara bertajuk "Women in Islam" yang diselelnggarakan oleh IMSAL dan dihadiri oleh pembicara dari Bridges Foundation, UK yakni Faddel Soliman. Kali kedua, aku bertemu dengannya saat acara Benefit Al Fath, sebuah acara penggalangan dana untuk pembangunan Masjid Al Fath di Leuven. Pada waktu itu dia tampil untuk memberi tausyiah tentang Shodaqoh (dalam bahasa Belanda). Di kedua pertemuan pertama, saya belum sempat ngobrol langsung dengannya.

Alhamdulillah di acara Benefit Ramadan 2013 ini saya duduk semeja dengannya, bahkan bersebelahan. Akhirnya kami saling berkenalan dan bertukar pikiran.

Victoria ini adalah muslimah yang tinggal di Tienen, kota kecil yang tak jauh dari Leuven, sekitar 45 menit - 1 jam dengan bus. Dia kini bekerja sebagai researcher di UGhent, penerjemah, dan berbagai aktivitas sosial lainnya. Dia yang asli Belgia ini pun cukup terbuka orangnya, termasuk ketika menceritakan perjalanannya mengenal Islam.

Victoria tumbuh di lingkungan keluarga Katolik. Dia sejak kecil hingga remaja rajin ke gereja. Bahkan tak jarang, orang lain menganggapnya aneh. Masih muda koq rajin ke gereja? Itu yang mereka duga. Memang biasanya gereja selalu penuh dengan orang-orang tua.

Victoria remaja tumbuh dengan jiwa sosial dan religius. Dia berteman dengan siapa saja dan sepekan sekali dia berguru pada seorang pastur. Suatu ketika dia merasakan ada yang "tidak beres" dalam jiwanya. Tubuhnya pun sempat sakit dan harus dirawat secara intensif. Setelah berkonsultasi dengan guru spiritualnya, dia pun memutuskan untuk "berpuasa". Sang guru pun sempat berpesan, agar dia menghentikan "puasanya" jika ia sakit. Victoria yang kala itu berusia 17 tahun, mengatur pola makannya, seperti layaknya seorang muslim berpuasa. Ia pun mulai merasakan manfaatnya.

Seiring berjalannya waktu, ia memiliki teman-teman yang beragama Islam. Seingatnya, ada 3 anak laki-laki yang dikenalnya suka "minum", tapi suatu saat dia melihatnya mereka tidak "minum". Dia sangat kagum dan bertanya-tanya, apakah mereka sedang menjalani terapi? mengingat biasanya mereka selalu dengan botolnya, tetapi beberapa hari ini tidak. Selidik punya selidik, ternyata ketiga teman laki-lakinya itu sedang berpuasa Ramadhan. Wow, semakin kagumlah dia dengan "puasa". Akhirnya dia baru tahu, bahwa dalam Islam itu ada kewajiban untuk berpuasa, tetapi tidak hanya tidak boleh makan dan minum tetapi juga menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang. Dia semakin yakin dengan puasa yang sudah dijalaninya, bahkan ia juga mencoba untuk tidak "bermaksiat" selama puasa.

Victoria pun menceritakan tentang kebiasaannya berpuasa pada teman-temannya yang muslimah. Hatinya pun terharu, ketika mereka menyebut bahwa dia adalah saudarinya. Dengan tang terbuka mereka meladeni rasa ingin tahu Victoria tentang Islam. Dia pun kerap kali diundang untuk berbuka puasa bersama oleh teman-temannya yang muslimah, meskipun mereka tahu bahwa Victoria bukanlah seorang muslimah.

Victoria juga termasuk orang yang rasa ingin tahunya besar, termasuk tentang islam. Banyak buku yang dilahapnya, browsing, bertanya, tak lelah semua itu ia lakukan. Dan memang benar, Allah akan memberikan hidayah pada mereka yang mencarinya.

Menjadi seorang muslimah, adalah sebuah keputusan besar dalam hidupnya. Dia tidak ingin keputusan itu sekedarnya saja. Bahkan ia menargetkan bahwa ia harus benarbenar paham tentang Islam, Ia harus sudah membaca Al Qur'an secara keseluruhan, ia harus bisa berbahasa Arab (karena Al Qur'an ditulis dalam bahasa Arab), dan beberapa syarat yang ia buat sendiri. Butuh waktu bertahun-tahun ia memantapkan hatinya dan mempersiapkan dirinya, alhamdulillah di usianya yang ke 23 dia memutuskan untuk menjadi seorang muslimah. Konflik dalam keluarga terkait dengan ke-Islam-annya, ia hadapi dengan sabar. Dia tetap baik dan hormat pada keluarga besarnya.

Setelah menjadi seorang muslimah, ia merasakan ketenangan hati yang luar biasa, kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan. Ia memiliki tante dan seorang sepupu yang sangat baik, mereka yang paling bisa menerima keputusannya. Tanpa sepengetahuan tante dan sepupunya, Victoria sering mendo'akan agar mereka juga mendapat hidayah Islam, seperti dirinya.

Hal yang luar biasa pun terjadi! Empat tahun setelah ia mengucap syahadat di Islamic centre Brussels, dia kembali ke masjid itu. tapi kali ini ia tidak sendiri, ia bersama seorang gadis kecil yang merupakan buah cintanya dengan seorang laki-laki keturunan maroko. Setelah ia sholat, seperti biasa ia berdo'a. tak jauh dari tempatnya duduk ada seorang muslimah yang juga tengah berdo'a. Dia merasa mengenal sosok wanita itu. Dia dekati...dan ternyata, wanita yang berjilbab itu adalah sepupunya yang sudah lama tidak kontak dengannya. Dia lah sepupu yang sering ia sebut dalam do'anya. Allohu Akbar! Allah mengabulkan do'anya... Mereka pun berpelukan dalam haru.

Kejadian di Islamic center itu sangat istimewa buat Victoria. Dia pun menceritakan hal ini kepada teman-temannya, yang dulu sering mengundangnya berbuka puasa dan kini pun menjadi seperti saudarinya sendiri. Teman-temannya tersenyum bahagia dan larut dalam haru. Hingga tiba-tiba ada salah satu dari mereka bersuara, "Allohu Akbar, betapa Allah mengabulkan do'a kita semua. Allah Maha Baik". "Do'a kita?" Victoria langsung menyela. "Ya, do'a kita." jawab temannya mantap. "Tahukah kamu Victoria, sejak kau menceritakan tentang keingintahuanmu tentang islam, dan kau berinteraksi lebih intens dengan kami saat berbuka puasa dan seterusnya. Kami melihat kesungguhanmu dan kebersihan hatimu. Kami pun juga mendo'akanmu agar kau mendapat hidayah", lanjutnya. Victoria pun tak dapat berkata-kata lagi, air matanya tak dapat lagi ditahan, dan akhirnya mereka pun saling berpelukan.

Ya, sekali lagi kekuatan do'a. Allah ingin mengajariku tentang kekuatan do'a melalui cerita Victoria. Bagi seorang mukmin, tiadalah ceritanya putus asa. karena yakin, ada Allah yang Maha Kuasa. terus berdo'a...ketuk pintu langit dengan segala daya, upaya dan air mata.

terima kasih Victoria, semoga Allah meneguhkan keimananmu dan membukakan jalan kebaikan untukmu.

Dari Abu Ad-Darda’ dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ “
Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.”
(HR. Muslim no. 4912)

Leuven, 13 Juli 2013 / 4 Ramadhan 1434 H

dinsdag 26 maart 2013

Oma Georgette, Muallaf Tertua di Dunia

Membaca atau mendengar kisah-kisah muallaf, merupakan "penyemangat" tersendiri buat saya. Penyemangat untuk menjadi muslimah yang lebih baik, sebagai bentuk syukur saya pada Allah atas nikmat iman dan Islam. Belum lagi saat mendengar "perjuangan" mereka untuk ber-Islam. Luar biasa! Sering "malu hati" melihat kesungguhan dan komitmen mereka dalam ber-Islam. Alhamdulillah tinggal di luar negeri, tak menjadi halangan untuk merasakan manisnya iman. 


"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al Qashash: 56)


Kemarin, tanpa sengaja saya membaca postingan seorang teman via FB tentang kisah seorang Muallaf Belgia. Kisah kali ini cukup istimewa bagi saya. Apa istimewanya? Seseorang yang masuk islam kali ini bukanlah dari kalangan remaja atau paruh baya atau ilmuwan, seperti yang beberapa kali sempat saya dengar. Akan tetapi, orang yang masuk Islam ini adalah seorang Oma yang berusia 91 tahun (saat ini dia berusia 92 th). Allohu Akbar!

Ingin tahu kisahnya? Saya mencoba menuliskan sebatas yang saya tahu dari artikel di sebuah media online tersebut...

---------------------------------------------------------------------------------------

sumber gambar : dari sini

Georgette Lepaulle, namanya (selanjutnya saya sebut Oma). Oma tinggal di Berchem, di sebuah kota di propinsi Antwerpen, Belgia. Tahun lalu, th 2012, Oma telah membaca dua kalimat syahadat. Bahkan, saat itu Oma tercatat sebagai muallaf tertua di dunia (saat itu usianya 91 tahun). Oma memutuskan untuk menjadi seorang muslimah karena tertarik dengan keramah-tamahan muslim (yang berada disekelilingnya) dan beberapa kali dia merasa bahwa Allah mengabulkan do'anya. Allohu Akbar!
Ceritanya berawal saat 2 tahun yang lalu, saat keluarga Oma akan memasukkannya ke panti jompo. Mohammed, seorang muslim yang telah bertetangga dengannya lebih dari 40 tahun, menghalang-halangi niatan itu. Dia mengajak Oma untuk tinggal bersama keluarganya karena keluarga Mohammed telah mengenal Oma sejak lama. Apalagi ibu Mohammed juga sudah meninggal, dia sudah menganggap Oma seperti ibunya sendiri. Sejak tinggal bersama keluarga Mohammed, Oma mulai tertarik dengan Islam. Oma melihat mereka sholat berjama'ah, saling berkasih-sayang, dan saling berbagi. Oma melihat makna "keluarga" yang begitu indah dalam keluarga Muhammed, sangat berbeda dengan kondisi keluarganya.

Pada musim panas tahun lalu (2012), Oma ikut dengan Muhammed untuk mengunjungi keluarganya di Maroko. Pada waktu itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, bulan puasa bagi umat Islam. Puasa bukanlah hal yang asing bagi Oma yang (dulunya) beragama Katolik. Dia dibaptis, pergi ke biarawati di sekolah, dua kali menikah di gereja dan kedua suaminya pun telah meninggal dan dikuburkan dengan cara gereja. Selama hidup dia bekerja sebagai seorang pembantu di sebuah keluarga Yahudi. Namun dia merasa bahwa agamanya tidak pernah "menyentuh"nya. Sebaliknya, dia merasa jauh dari Tuhan. Dia mulai merokok untuk pertama kalinya saat berusia 5 tahun hingga usianya 78 tahun. Pada usia 7 tahun, dia mulai minum alkohol hingga sebelum dia masuk Islam, dia minum setengah botol wine setiap hari. Itulah kebiasaan lamanya sejak pernikahan pertamanya dengan seorang pilot Italia yang telah meninggal saat perang.

Oma merasa keikutsertaannya saat Ramadhan tahun lalu itu membangkitkan jiwa religiusnya. Dia sendiri merasa kaget. Dia merasa sangat terlambat merasakan "pengalaman" ini, merasakan hubungan dengan sesuatu yang "lebih tinggi", dengan Allah. Dia merasakan keterbukaan-Nya, juga cinta-Nya. Dia pernah berdo'a meminta kesembuhan untuk temannya dan untuk keselamatan seorang anak muda yang "salah jalan". Kedua do'anya itu telah dikabulkan-Nya. Baginya, itu sudah cukup menguatkan dirinya untuk masuk islam.

Saat masuk Islam, para muslimah "membersihkan" seluruh tubuh Oma (mungkin maksudnya adalah mandi besar sebagai salah satu hal yang diwajibkan ketika seseorang itu masuk Islam, sebagaimana dalam sebuah hadits, Dari Qais bin Ashim Radhiyallahu Anhu bahwa ia masuk Islam, lalu diperintah oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam agar mandi dengan menggunakan air yang dicampur dengan daun bidara.” (Shahih: Irwa-ul Ghalil no: 128, Nasa’I I: 109, Tirmidzi, II:58 no: 602 dan ‘Aunul Marbud II: 19 no: 351). -red). Setelah itu, para muslimah pun menghujani Oma dengan ciuman. Menurut Oma, ia tidak pernah mendapat ciuman yang sebanyak itu sepanjang hidupnya. Dia merasa senang karena mereka menganggapnya sebagai saudaranya. Sejak masuk Islam, banyak hal yang harus Oma tinggalkan, seperti minuman keras , rokok, daging babi dan juga sesuatu yang tidak mudah bagi seorang wanita yakni make-up. Sebelumnya, Oma selalu memakai make-up yang tebal.

Begitu kembali di Belgia, mereka pergi ke masjid besar di Brussels untuk mengurus Sertifikat ke-Islam-an Noor, nama baru Oma. Kemudian masjid di Brussels melaporkannya ke masjid di Mekah. Ternyata, tidak ada muallaf yang lebih tua dari usia Oma saat itu, yaitu 91 tahun. Segera saja Raja Saudi Arabia mengirimkan utusannya ke Berchem untuk memberikan hadiah, sebuah jam tangan emas untuk Oma. Tidak hanya itu, Raja Saudi Arabia juga mengirimkan "undangan"  baginya untuk menjalankan ibadah Haji tahun depan.

sumber foto : dari sini
 

Oma tampak bersungguh-sungguh dengan ke-Islam-annya (semoga Allah memberi Oma keistiqomahan). Komitmennya untuk menjadi muslimah yang baik terus dia upayakan, termasuk digambarkan saat wawancara ini. Saat perkenalan, dia menyembunyikan tangannya dibalik bajunya. Dia menolak untuk berjabatan tangan. Dia menyebutkan bahwa dia tidak akan mengulurkan tangannya untuk orang asing karena begitulah aturan Islam (Subhanalloh...bagaimana dengan kita? yang sudah muslim sejak lahir. Sudahkah kita memiliki komitmen seperti Oma? faghfirlana...). Dia hanya akan "menyentuh" suaminya. Sambil becanda, dia pun mengatakan bahwa pernyataan ini tidak berarti bahwa dia merencanakan sebuah pernikahan setelah ini (setelah ia menjadi muslimah). Bahkan ketika Oma ditanya, berapakah biaya yang harus dia keluarkan untuk menjadi seorang muslimah. Dia menjawab bahwa hal ini (ke-Islam-annya -red) tidak ada kaitannya dengan uang. Dia mengambil keputusan ini dengan sukarela.

---------------------------------------------------------------------------------------

Subhanalloh walhamdulillah walaa ilaaha illallohu Allohu Akbar!
Betapa kisah ini adalah salah satu contoh bahwa hidayah Allah bisa sampai kepada siapa pun, tidak terbatas asalnya, warna kulitnya atau usianya. Dan kita pun harus yakin bahwa Allah akan memuliakan orang yang bisa menjadi jalan hidayah bagi orang lain. 

"Seseorang mendapat hidayah Allah melalui engkau, maka hal itu lebih baik bagimu dari seekor unta merah "

Itulah yang pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW kepada Ali bin Abi Thalib RA ketika beliau menyerahkan bendera kepadanya pada saat perang Khaibar. Kemudian Ali berkata : “Atas dasar apa kita memerangi manusia, kita memeranginya sampai mereka seperti kita?”. Rasul bersabda : Sabar, sampai engkau memasuki wilayah mereka, lalu dakwahkan mereka kepada Islam, dan sampaikan kepada mereka kewajiban-kewajibannya, maka demi Allah seseorang mendapatkan hidayah melalui engkau, hal itu lebih baik bagimu dari pada seekor unta merah”.

baarokallohu fiiki ya habibati Noor...

Dalam surat Al Kahfi (18) ayat ke 17, Allah berfirman, "Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya."

baarokallohu fiikum untuk Mohammed sekeluarga yang telah menjadi "jalan hidayah" bagi Oma. yang telah mengingatkan kita agar berbuat baik kepada sesama, khususnya tetangga. Karena demikian pula lah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.


Dari ‘Aisyah dan Ibnu ‘Umar radhiyallahu 'anhuma,

bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:


" مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِى بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ يُوَرِّثُهُ "

” Jibril 'alaihissalam senantiasa (terus-menerus) berpesan kepadaku (untuk berbuat baik) dengan tetangga,sehingga aku mengira bahwasanya dia akan memberikan hak waris kepada tetangga.”

(HR. Al-Bukhari no. 6014 dan 6015, Muslim no. 6852 dan 6854, dan imam-imam ahli hadits lainnya)



Wallohu a'lam bish showab

zondag 24 februari 2013

"Ibu", yang Membuatnya Jatuh Hati pada Islam

Sabtu kemarin, pengajian bulanan KPMI bertempat di Belgische Islamitisch Centrum, De Koepel Moskee, Antwerpen. Istimewa memang... Kami bersilaturrahmi dengan muslim di sini yang mayoritas dari Maroko dan Belgia. Tausyiahnya pun akan disampaikan oleh Imam Masjid De Koepel, ....

Sebelum masuk ke acara pengajian, ada acara yang menarik, yaitu pembacaan syahadat oleh dua orang remaji, yang satu asli Belgia dan satunya keturunan Afrika. Subhanalloh...Allohu Akbar! Suasana haru pun menyelimuti kami semua. Sesaat setelah pembacaan syahadat itu, kami mengucapkan ucapan selamat pada mereka berdua, kami menyambutnya dengan sholawat badar...layaknya menyambut orang yang mulia dengan hati terbuka dan gembira. ya...memang mereka berdua adalah mulia, Allah telah mencurahkan hidayah kepada kedua gadis ini.

Tertarik dengan ke-islam-an mereka, aku pun mengambil kesempatan untuk berbincang intens dengan salah satunya, Clara namanya. Gadis asli Belgia ini baru berusia 16 tahun. Sebelumnya saya tak menduga dia lah yang (baru) masuk Islam. Saya duduk tak jauh darinya dan teman-temannya. Begitu pengurus Masjid menyebutkan bahwa akan ada dua orang yang masuk Islam, mereka semua sekitar lima orang beranjak meninggalkan tempatnya. Hmm...yang mana ya yang bersyahadat? apalagi tak tampak gambarnya di layar TV yang ada di tempat jama'ah putri, hanya terdengar suaranya saja. Ketika selesai dan mereka kembali, kami pun ingin menyambutnya. Beberapa orang "menyalami" seorang muslimah yang belum berjilbab, satu-satunya yang ada di antara mereka. Saya memilih tidak langsung menyalami, tetapi saya tanya apakah dia yang baru masuk Islam? Dia bilang, bukan. Saya orang maroko, sudah muslim sejak lahir. Dia pun menunjuk salah seorang temannya, gadis berkulit putih yang tampak semakin canting dengan jilbabnya, ya dialah Clara.

Usai mengucapkan selamat, saya mulai berbincang lebih jauh dengannya. Dia bercerita bahwa sudah setahun terakhir dia mempelajari Islam. Dari siapa dia mengenal Islam? Saya tertarik akan hal ini karena kedua orang tua dan keluarganya adalah non muslim. Dia mengatakan bahwa ia mengenal Islam dari teman-temannya. Hingga kemudian dia tertarik. Salah satu ajaran Islam yang membuatnya indah adalah bagaimana Islam sangat memuliakan seorang Ibu. Katanya, dia sebagai wanita sangat tersanjung. Begitu pula ajaran Islam yang lainnya, yang menurutnya membuat hatinya tersentuh. Sehingga dia memutuskan hari ini, Sabtu, 23 Februari 2013, dia memeluk agama Islam. Dia pun sekarang merasa bahagia dan tenang hatinya. Allohu Akbar! Bergetar hati ini saat dia menceritakan hal ini. Semoga Allah terus menyiraminya dengan rahmat, cinta, keimanan dan kebahagiaan. Saya pun memeluknya sekali lagi...sambil berkata bahwa meski keluarga dekatnya belum mendukungnya, insyaa Allah kini ia memiliki keluarga besar, kami semua. Dia pun tersenyum dan mengucap terima kasih.

Saat tiba waktu sholat maghrib, saya sempat menanyakan apakah ia membutuhkan buku-buku tentang Islam, termasuk tentang sholat? *kebetulan saya mempunyai beberapa buku-buku Islam berbahasa Belanda. Ingin skali kuhadiahkan padanya* Dengan senyum dia mengatakan bahwa dia bisa sholat koq, meski belum mengerti bacaannya. Dia mencari informasi di internet. Subhanalloh... semoga Allah terus memudahkannya dalam menyempurnakan ke-Islam-an dan keimanannya.

Rasa ingin tahunya pun besar. Tak malu ia menanyakan tentang sesuatu yang tidak dipahaminya. *mungkin karena pola didikan di sini yang cukup mengapresiasi orang yang bertanya dan membuat orang tidak malu bertanya atau berpendapat* Seusai sholat dia bertanya tentang apa yang kami senandungkan tadi saat menyambut kedatangannya? apa maksudnya? Teman-temannya pun berusaha menjelaskan bahwa itu tadi sholawat badar, dimana dulu dibacakan oleh kaum Anshar saat menyambut Rasulullah beserta kaum muhajirin di Madinah. Aku pun menambahkan, itu maksudnya adalah sebagai ucapan selamat datang, saudariku. Kau kini adalah bagian dari kami. Senyum indahnya pun kembali terkembang. Masya Allah... semoga Islam, di Belgia khususnya, semakin kuat dengan masuknya orang-orang muda dan cerdas sepertinya.