Posts tonen met het label siroh sahabat. Alle posts tonen
Posts tonen met het label siroh sahabat. Alle posts tonen

dinsdag 2 april 2013

Kisah Cinta Fatimah ra dan Ali ra

sumber gambar : dari sini


Siapa yang berkata bahwa kisah cinta sejati terbaik di muka bumi ini adalah roman antara Romeo dan Juliet karya William Shakepeare, sesungguhnya belum pernah mendengar kisah cinta Ali bin Abi Thalib RA, sang pemuda cekatan yang cinta akan ilmu dan putri Sang Rasulullah Sallahu ‘alaihi Wasallam sendiri, si wanita tegar yang lembut, Fatimah Az zahra. Pasti, karena kisah Romeo dan Juliet tak lebih dari sebuah roman yang dilukis di atas kertas. Berbanding terbalik dengan kisah yang dilandasi iman dan cinta pada Allah Subhanahu wata’alla dan ini benar-benar terjadi sekitar 14 abad silam menghiasi indahnya langit jazirah Arab pada masa itu.

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah, Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.
Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. 
Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. 
Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.

’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.


Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.


Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.
Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”
Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”
Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:
“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” 
(kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4)
 
sumber : dari sini

Istri Teladan




                                                                                   sumber gambar : di sini

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda bahwa “Wanita paling utama di surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan
Asiyah binti Muzahim istri Fir’aun.” (HR. Ahmad dan Thabrani)

Fatimah Az Zahra ra bertanya kepada Rasulullah SAW tentang wanita pertama yang akan memasuki surga. Rasulullah bersabda: “Wahai Fatimah, jika engkau ingin mengetahui perempuan pertama masuk surga, selain Ummul Mukminin, dia adalah Ummu Mutiah.”

1.      Khadijah binti Khuwailid ra
Dari siroh kita bisa mengenal kepribadian ummul mukminin yang satu ini, sebagai sosok istri yang sangat dicintai oleh suaminya, Rasulullah SAW. Rasulullah bersabda, “…Ia beriman kepadaku ketika semua manusia ingkar. Ia membenarkanku ketika seluruh manusia mendustakan. Ia membantuku dengan hartanya ketika semua manusia menahan harta mereka…” (HR Ahmad). Di lain kesempatan, Rasulullah SAW bahkan bersabda, “Sesungguhnya aku telah diberi karunia dengan cintanya Khadijah kepadaku” (HR Muslim). Masya Allah…sosok istri yang mendukung penuh suaminya, taat kepadanya bahkan bijak dan menenangkan.



2.      Fatimah binti Muhammad ra
Fatimah adalah putri Rasulullah SAW. Beliau adalah sosok yang putri yang sangat patuh & hormat pada orang tuanya. Beliau memiliki akhlak yang mulia, yakni qana’ah. Ali r.a. berkata:”Aku menikahi Fatimah, sementara kami tidak mempunyai alas tidur selain kulit domba untuk kami tiduri di waktu  malam dan kami letakkan di atas unta untuk mengambil air di siang hari.” Beliau juga senantiasa mengucapkan kalimat yang menentramkan hati suami. Suatu ketika Ali ra, suaminya, pulang tanpa membawa hasil dari pekerjaannya. Dengan wajah manis dan tersenyum, Fatimah ra menjawab, “Tidak apa-apa kanda. Bukankah rejeki itu sudah diatur dan bukan kita yang mengaturnya”.

3.      Asiyah binti Muzahim
Asiyah adalah istri raja Fir’aun yang dzolim. Beliau  mampu mempertahankan keyakinannya, ia tidak tergiur dengan harta, kemewahan, tahta & kekuasaan meskipun suaminya mengancam dan menyiksanya. Beliau selalu memanjatkan do’a, ” Ya Rabb-ku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga, dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (QS At-Tahriim 11)

4.      Ummu Mutiah
      Suatu ketika, Fatimah ra bertanya kepada Rasulullah SAW tentang wanita yang pertama kali masuk
      surga. Jawaban Rasulullah membuat Fatimah penasaran tentang sosok Mutiah. Akhirnya beliau
      berkunjung ke rumah Mutiah. Dari pengamatannya, akhirnya Fatimah pun menyebutkan bahwa Mutiah 
      memang layak menjadi ahli surga. Mutiah adalah sosok istri yang patuh pada suami, ikhlas mengabdi 
      kepada suami dan berusaha
      menyenangkan suami. 

Wallohu a'lam bish showab

dinsdag 15 januari 2013

Sa'id ibnul Musayyab

disampaikan oleh ust Roni Abdul Fatah
pada kajian Siroh Sahabat di MQ FM pada hari Selasa, 15 Januari 2013

Beliau dilahirkan di zaman kekhalifahan Umar ra. Beliau mendapat julukan sebagai kibar at tabi'in / pemimpin para Tabi'in. Tabi'in adalah generasi yang tidak berjumpa nabi SAW tapi berjumpa dengan para sahabat. Sahabat Nabi yang hidup sezaman dengan beliau adalah khalifah Umar bin Khoththob ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib ra, Abu Hurairah ra, Aisyah ra, dan sebagainya. Beliau juga menimba ilmu pada para sahabat tersebut.

Karakter beliau adalah ahli beribadah, wara', qana'ah, mencintai sholat berjama'ah. Pada suatu ketika, beliau pernah menyampaikan, "aku tidak pernah meninggalkan sholat berjama'ah, shaf pertama, takbir imam yang pertama, selama 40 tahun". Masya Allah... sungguh luar biasa. Mengingat kita semua sudah tahu fadhilah dari sholat berjama'ah dan di awal waktu lagi. jadi...plus plus. Padahal beliau adalah seseorang yang aktivitasnya luar biasa, seorang ulama besar dan pedagang. Beliau berfatwa di saat para sahabat masih hidup. Hal ini menunjukkan ketinggian ilmunya. Umar bin abdul Aziz pun pernah berguru pada beliau. Beliau banyak pula meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah. Beliau ini tidak pernah meninggalkan majelis yang dibimbing Abu Hurairah. Abu Hurairah sendiri sangat menyayanginya, karena sudah tampak kecerdasan, kuat hafalannya dan kesholehannya, akhirnya beliau dinikahkan dengan putri Abu Hurairah. Beliau sudah hafal Al Qur'an pada usia 5-6 th.

Karakternya ini sesuai dengan namanya. Kata sa'id dalam bahasa Arab artinya bahagia, beliau merasa bahagia dalam keta'atan kepada Allah.

Beliau tidak hanya rajin menuntut ilmu, tetapi juga gemar mengamalkannya. Setiap 3 hari sekali beliau khatam Al Qur'an. Beliau hafal banyak hadits dan beliau pun mampu menafsirkan mimpi. Beliau org yg zuhud, hatinya dipenuhi urusan akhirat. "Rasulullah bersabda jika ada seseorang yang hatinya penuh dengan urusan akhirat, maka dunia akan datang kepadanya dengan bertekuk lutut".

Khalifah Abdul Malik bin Marwan pernah berusaha meminang putri Sa'id untuk putranya, tp ditolaknya. Sampai beliau dihukum cambuk karena khalifah merasa malu. Akhirnya Sa'id malah menikahkan putrinya dengan Abu Wada'ah. Abu Wada'ah ini adalah orang awam yang hidupnya berkekurangan, namun ia aktif hadir di majelis ilmunya.Sa'id ibnul Musayyab menolak pinangan putra khalifah Abdul Malik bin Marwan hanya karena tidak ingin putrinya tersilaukan dengan "dunia".

Masya Allah...semoga kita semua bisa meneladani sosok Sa'id ibnul Musayyab ini. aamiin

wallohu a'lam bish showab